Masih dalam rangka mengenang saat-saat kebersamaan itu (entah mengapa saya sekarang jadi teramat sangat sentimental, ada yg tahu terapi terbaik buat menanggulanginya?), saya teringat pada satu momen sembilan belas tahun silam. Bulan Agustus tahun 90, sepulang sekolah saya langsung asyik main kelereng di pekarangan rumah bersama beberapa orang teman. Masih berseragam putih-merah, tak sempat lagi berganti pakaian.

Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar bunyi raungan keras, yang bikin kami semua bengong. Saya pikir ibu marah karena pakaian sekolah saya berdebu dan penuh tanah kotor, rupanya itu adalah bunyi tip dek yang berdentam dari kamar paling depan.

Kami segera berlarian mengejar hingar-bingar itu, ingin tau. Semakin dekat, bunyi itu semakin jelas terdengar, semakin menggelegar, semakin membuat kuping kami bergetar. Bunyinya ibarat raungan jet supersonik yang terbang merobek langit. Read more…