Jajan adalah kultur, ia di bentuk dari sebuah proses sejarah. Ia tidak seperti hasrat biologis-misalnya, yang adalah sebuah fitrah. Jajan terlahir dari ekses. Kehidupan makin menuntut manusia untuk semakin fokus, kemudian terbentuk rutinitas, ekses rutinitas ini yang menumbuh-kembangkan Jajan menjadi komoditi yang amat besar sekarang ini.

Mulanya manusia tak pernah mengenal Jajan, karena hidup mengalir apa adanya. Tidak ada tenggat apalagi target. Kehidupan manusia purba yang nomad menjadikan mereka tak pernah memikirkan esok. Ada sekarang, makan sekarang. Tapi mereka lepas dari beban Jajan. Semuanya bagi mereka adalah makanan, semua adalah cara untuk bertahan hidup, bahkan aktivitas yang menurut manusia modern bernilai seni-di buatnya benda-benda magis yang artistik, misalnya, bagi mereka tak lebih dari sekadar menghindari petaka, mencoba melawan nasib, mempertahankan hidup. Mereka tak pernah mengenal Seni, mereka tak pernah Jajan.

Saat tata cara nomaden di tinggalkan manusia, kehidupan berangsur semakin kompleks. Terlahir sistem, yang menuntut manusia untuk menciptakan Sketsa. Dan masing-masing individu menjalani peran masing-masing berdasarkan Sketsa. Semakin fokus pada Sketsa-menurut teori manusia, kemungkinan untuk sukses semakin besar.

jajan

Read more…

Advertisements