Posts tagged ‘penyadap karet’

Memandang Langit Timur (versi Mulyana Adyaswara)

Lama juga saya absen dari hingar bingar blogsphere, setengah tahun barangkali. Tapi inilah saya!, saya belum mati, Saudara-saudara!

Tangan saya sudah teramat kebas, menggerus kulit demi kulit pohon karet, beribu batang, beratus hari, berpuluh minggu, berbulan-bulan. Pokok-pokok karet itu seakan menjerat putaran waktu, menjebak fragmen-fragmen kenangan, membekukan pergantian nasib; saya tetaplah saya, sang buruh penyadap karet, sungguh suatu paradoksalitas yang menyolok, ketika saya merenungi perjalanan getah karet itu sendiri.

Tetes demi tetes lateks-getah encer, mengalir sendat ke dalam batok, bergumpal menjadi odel-getah beku, hitam, menjijikan, busuk minta ampun, jauh lebih busuk dari telur busuk sekalipun. Tetapi ajaib, pada akhirnya dia mampu berubah, bertransformasi,bermetamorfosis menjadi sesuatu yang luar biasa, menjadi komponen kapitalis penting, menjadi alat tak terelakkan mobilitas manusia modern, menjadi merek-merek raksasa semacam Radial, Michellin dan Bridgestone. Ketika merenungi ini, apakah salah jika saya kemudian bertanya, mengapa saya tetap seperti ini adanya? Read more…

Advertisements

Bangga

Hari Senin-13 Juli, ketika saya sedang asyik mengiris kulit demi kulit pohon karet, ketika pikiran sedang hanyut dalam keheningan hutan pagi itu, saya menerima telepon dari anak saya, \”Pak, hari ini Dias mulai masuk sekolah!\”

Ah, betapa bangga hati ini, sama bangganya dengan saat-saat ketika saya mengangkat sang bayi merah itu sambil menyerukan Takbir, hari pertama dia menghirup udara dunia.

Read more…