Lama juga saya absen dari hingar bingar blogsphere, setengah tahun barangkali. Tapi inilah saya!, saya belum mati, Saudara-saudara!

Tangan saya sudah teramat kebas, menggerus kulit demi kulit pohon karet, beribu batang, beratus hari, berpuluh minggu, berbulan-bulan. Pokok-pokok karet itu seakan menjerat putaran waktu, menjebak fragmen-fragmen kenangan, membekukan pergantian nasib; saya tetaplah saya, sang buruh penyadap karet, sungguh suatu paradoksalitas yang menyolok, ketika saya merenungi perjalanan getah karet itu sendiri.

Tetes demi tetes lateks-getah encer, mengalir sendat ke dalam batok, bergumpal menjadi odel-getah beku, hitam, menjijikan, busuk minta ampun, jauh lebih busuk dari telur busuk sekalipun. Tetapi ajaib, pada akhirnya dia mampu berubah, bertransformasi,bermetamorfosis menjadi sesuatu yang luar biasa, menjadi komponen kapitalis penting, menjadi alat tak terelakkan mobilitas manusia modern, menjadi merek-merek raksasa semacam Radial, Michellin dan Bridgestone. Ketika merenungi ini, apakah salah jika saya kemudian bertanya, mengapa saya tetap seperti ini adanya? Read more…