Posts from the ‘Duniaku Duniamu’ Category

Di Lengang Gerimis

Seratus dua puluh, seratus tiga puluh, seratus enam puluh….! Angka-angka dalam speedometer digital itu terus merangkak menuju puncak. Tak cukup waktu untuk memedulikan akselerasi mesin ikon peradaban modern itu. Tak cukup ruang memori untuk membagi perhatian antara realita yang melesat sekejap dengan kenangan-kenangan yang enggan beranjak dari nadir kalbu. Kabin Camry yang hening itu kian menenggelamkannya dalam lamunan memilukan.

Butir-butir bening terus berderai dari sudut-sudut matanya. Tak ayal, apa yang ditangkap sensor-sensor matanya tak lebih bagai adegan slow motion dalam film digital dengan efek mirror yang bias dan menyilaukan. Lalu-lintas tol pusat kota yang lengang, ditingkahi gerimis dan kilatan-kilatan “blitz” di cakrawala, hanya membayang semu dalam pandangannya, begitu semu. Lampu-lampu bulevar dan barisan neonsign seakan berarak, bergerak cepat, bergelombang, serupa pita warna-warni yang membentang di sepanjang jalan. Read more…

Advertisements

Di Sudut Bulevar

Siang terik begitu menyengat. Matahari ibukota tak lagi bersahabat, itu yang dulu sering kubaca di novel atau esai sinis kritikus pesimistis. Dulu pernyataan semacam itu kuanggap hanyalah rengekan kecil para oportunis yang belum kebagian lezatnya ‘kue’ Jakarta.

Ternyata tidak, kini aku benar-benar merasakan panggangan sang raja siang itu sudah di ambang toleransi. Butiran peluh merembes deras di kening, pancaran ultraviolet itu begitu kuat menghujam kepalaku yang telanjang. Aku terduduk lemah, bersandar pada dinding bulevar, terhimpit ratusan makhluk metalik yang berbaris macet. Mesin-mesin itu berggerak, merayap, menghisap udara Jakarta yang sudah sebegini pengap, melahap ruang-ruang Jakarta yang sudah sebegini sempit. Aku merasa terperangkap. Read more…

Memperkenalkan ‘Doggie style’?

Perkembangan IT sungguh menakjubkan. Arus informasi telah menyeruak masuk bahkan hingga ke gubuk-gubuk petani di pedalaman. Juga ke pondok saya yang reyot di ujung kampung. Di atas dipan bambu, di temani secangkir teh hangat dan sepiring rebus singkong,…*hhmmm…* saya begitu asyik menelusuri halaman demi halaman internet.

Memang luar biasa, dan seperti biasa, sesuatu yang luar biasa selalu melahirkan kontroversi. Banyak kalangan menyambut baik fenomena ini. Tak sedikit yang memandang pesimistik.

Banyak pakar mempertanyakan seberapa penting internet buat masyarakat kampung, seberapa besar ekses negatif yang bakal ditimbulkan.

internet masuk desa

Read more…

Jajan

Jajan adalah kultur, ia di bentuk dari sebuah proses sejarah. Ia tidak seperti hasrat biologis-misalnya, yang adalah sebuah fitrah. Jajan terlahir dari ekses. Kehidupan makin menuntut manusia untuk semakin fokus, kemudian terbentuk rutinitas, ekses rutinitas ini yang menumbuh-kembangkan Jajan menjadi komoditi yang amat besar sekarang ini.

Mulanya manusia tak pernah mengenal Jajan, karena hidup mengalir apa adanya. Tidak ada tenggat apalagi target. Kehidupan manusia purba yang nomad menjadikan mereka tak pernah memikirkan esok. Ada sekarang, makan sekarang. Tapi mereka lepas dari beban Jajan. Semuanya bagi mereka adalah makanan, semua adalah cara untuk bertahan hidup, bahkan aktivitas yang menurut manusia modern bernilai seni-di buatnya benda-benda magis yang artistik, misalnya, bagi mereka tak lebih dari sekadar menghindari petaka, mencoba melawan nasib, mempertahankan hidup. Mereka tak pernah mengenal Seni, mereka tak pernah Jajan.

Saat tata cara nomaden di tinggalkan manusia, kehidupan berangsur semakin kompleks. Terlahir sistem, yang menuntut manusia untuk menciptakan Sketsa. Dan masing-masing individu menjalani peran masing-masing berdasarkan Sketsa. Semakin fokus pada Sketsa-menurut teori manusia, kemungkinan untuk sukses semakin besar.

jajan

Read more…

Memahami Per”beza”an Kita

Cukup rumit untuk memetakan konsep hubungan kita dengan negeri tetangga, Malaysia. Jiran terdekat ini memang memiliki hubungan emosional dan sejarah yang tak terpisahkan dari kita. Rumpun Melayu, yang meliputi semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, sebagian Jawa dan Sulawesi, tak pelak merupakan fakta yang tak bisa dibantah, bahwa antara kita dan mereka bersaudara.

Tetapi semua faham, hubungan sejarah yang lekat dan manis itu tak semanis realita kini. Boleh dikata, saat ini hubungan Indonesia Malaysia berada dalam situasi yang buruk, bahkan mungkin yang terburuk semenjak gesekan-gesekan konflik dimulai zaman revolusi dahulu.

Memang kita belum mendengar ada pejabat negara yang mengeluarkan statemen “keras” seputar konflik dengan Malaysia. Namun gejolak luar biasa dikalangan masyarakat umum begitu terasa. Memang kita belum mendengar jargon “ganyang Malaysia” kembali bergaung dikalangan petinggi istana atau politisi Senayan. Tapi kita sadar emosi ini sudah sedemikian kuat. Bahkan riak-riak kecil semacam kasus Manohara yang tak ubahnya “opera sabun”, ditanggapi secara ekstrem sebagai penghinaan nasional. Read more…

Demi Sebuah Komplain

Semakin lama berlangganan Indosat, makin parah hipertensi saya. Nah lho? Iya, jika anda menjadi saya sekarang, entah serapah macam apa bakal menyembur dari mulut anda.

Ini tentang kesabaran. Bahwa manusia sabar disayang Tuhan, itu mitos, atau kalau memang hukum, saya belum pernah tahu seperti apa dalilnya. Jadi, kesabaran versi saya, ada batasnya. Iming-iming disayang Tuhan, jika pilihannya sudah sedemikian sulit hingga membuat darah saya makin bergejolak, saya jengah juga.

Read more…

Terluka Karena Mega

Megawati itu pemimpinnya wong cilik!, saya setuju itu. Terbukti, PDIP-kendaraan politiknya, dikenal sebagai partai yang berbasis masa rakyat jelata. Bukti lagi, 99,9% tetangga saya (para buruh penyadap karet), menjagokan dia buat jadi presiden periode mendatang.

Tapi, saya terhenyak kaget ketika membaca sebuah berita di majalah lama. Itu berita lama, bertahun-tahun yang lalu, tetapi teramat sangat menohok hati, melukai jiwa dan menghancurkan hormat dan simpati saya pada wanita yang mengaku mewarisi cita-cita, semangat juang dan patriotisme Bung Karno itu.

Read more…