Seratus dua puluh, seratus tiga puluh, seratus enam puluh….! Angka-angka dalam speedometer digital itu terus merangkak menuju puncak. Tak cukup waktu untuk memedulikan akselerasi mesin ikon peradaban modern itu. Tak cukup ruang memori untuk membagi perhatian antara realita yang melesat sekejap dengan kenangan-kenangan yang enggan beranjak dari nadir kalbu. Kabin Camry yang hening itu kian menenggelamkannya dalam lamunan memilukan.

Butir-butir bening terus berderai dari sudut-sudut matanya. Tak ayal, apa yang ditangkap sensor-sensor matanya tak lebih bagai adegan slow motion dalam film digital dengan efek mirror yang bias dan menyilaukan. Lalu-lintas tol pusat kota yang lengang, ditingkahi gerimis dan kilatan-kilatan “blitz” di cakrawala, hanya membayang semu dalam pandangannya, begitu semu. Lampu-lampu bulevar dan barisan neonsign seakan berarak, bergerak cepat, bergelombang, serupa pita warna-warni yang membentang di sepanjang jalan. Read more…

Advertisements