Seratus dua puluh, seratus tiga puluh, seratus enam puluh….! Angka-angka dalam speedometer digital itu terus merangkak menuju puncak. Tak cukup waktu untuk memedulikan akselerasi mesin ikon peradaban modern itu. Tak cukup ruang memori untuk membagi perhatian antara realita yang melesat sekejap dengan kenangan-kenangan yang enggan beranjak dari nadir kalbu. Kabin Camry yang hening itu kian menenggelamkannya dalam lamunan memilukan.

Butir-butir bening terus berderai dari sudut-sudut matanya. Tak ayal, apa yang ditangkap sensor-sensor matanya tak lebih bagai adegan slow motion dalam film digital dengan efek mirror yang bias dan menyilaukan. Lalu-lintas tol pusat kota yang lengang, ditingkahi gerimis dan kilatan-kilatan “blitz” di cakrawala, hanya membayang semu dalam pandangannya, begitu semu. Lampu-lampu bulevar dan barisan neonsign seakan berarak, bergerak cepat, bergelombang, serupa pita warna-warni yang membentang di sepanjang jalan.

Semuanya kini hanya bergantung kepada insting. Ia tak tahu tengah melesat ke belahan mana. Kini Jakarta begitu asing baginya. Malam terlalu sombong buatnya. Ia merasa bukan lagi bagian dari denyut kehidupan bumi. Ia merasa begitu tersisih. Ia merasa sendiri. Bahkan denting Beethoven di dashboard seakan makin menyudutkan dirinya dalam ruang hampa kesedihan.

Adakah lagi satu alasan tersisa, alasan yang bisa menariknya kembali dari kebodohan terbesar ini?

Dulu ia sempat memendam secercah harapan. Ia mulai mensyukuri hidup, bahwa ternyata dunia masih memberinya sedikit cahaya. Kehadiran lelaki itu sungguh ibarat pelita baginya. Tapi ternyata kini mereka hendak merampasnya juga. Mereka hendak merampas pelita hatinya juga!

Mata gadis itu semakin basah. Butir-butir bening tumpah kian deras. Pantulan cahaya yang tertangkap lensa matanya yang bening itu kini semakin kabur. Dia semakin tenggelam dalam perenungannya yang menyakitkan.

Ia tak hirau betul betapa mobil yang dikendarainya itu melesat membelah kabut dengan kecepatan luar biasa. Kakinya yang kebas kian dalam menekan pedal gas. Desingan mesin terdengar nyaris serupa raungan taufan.

“Tak ada lagi alasan bagiku untuk meneruskan hidup. Tak ada sesuatu yang bisa menghentikan aku.”

Berapa kali sudah dia merencanakan ini? Beratus kali, barangkali. Tetapi keadaan seakan hendak bermain-main dengannya, selalu menarik ulur, menawarkan negoisasi. Kini, semuanya harus diakhiri, dan tak akan ada lagi kemungkinan lain.

Mobil-mobil seperti bergerak mundur di samping kiri dan kanan Camry yang dikendarainya. Kerlap-kerlip lampu-lampunya tak lagi memberi isyarat berarti buat si gadis. Hanya ada satu gerakan sederhana yang akan menuntaskan kisah di malam yang basah ini. Ya, dan dia benar-benar melakukannya. Ia membanting setir kuat-kuat ke samping kanan, ia pejamkan mata rapat-rapat.

Seperti gasing yang jatuh lepas kendali, mobil itu berpilin kuat, meluncur deras dengan body sebelah kiri sebagai alas, meninggalkan derit menyayat dan percikan api membelah langit, menyongsong arus tol yang bergerak tanpa jeda. Bunyi dentam dan derak mengerikan seakan-akan memecah nyanyian gerimis yang senyap.