Siang terik begitu menyengat. Matahari ibukota tak lagi bersahabat, itu yang dulu sering kubaca di novel atau esai sinis kritikus pesimistis. Dulu pernyataan semacam itu kuanggap hanyalah rengekan kecil para oportunis yang belum kebagian lezatnya ‘kue’ Jakarta.

Ternyata tidak, kini aku benar-benar merasakan panggangan sang raja siang itu sudah di ambang toleransi. Butiran peluh merembes deras di kening, pancaran ultraviolet itu begitu kuat menghujam kepalaku yang telanjang. Aku terduduk lemah, bersandar pada dinding bulevar, terhimpit ratusan makhluk metalik yang berbaris macet. Mesin-mesin itu berggerak, merayap, menghisap udara Jakarta yang sudah sebegini pengap, melahap ruang-ruang Jakarta yang sudah sebegini sempit. Aku merasa terperangkap.

Para pejalan kaki lalu-lalang di depanku nyaris tanpa henti, tanpa peduli, tanpa tegur sapa. Yah, tegur sapa, sesuatu yang mulai menghilang dari memoriku. Jakarta bagaikan gagu, hanya mengerang dan meneriakan ambigu. Desingan angin kering, raungan mesin, hentakan klakson, ocehan asongan, sumpah serapah manusia lelah, berbaur menjadi bunyi-bunyi aneh yang tak kufahami maknanya.

Dinding bulevar memang sedikit memberiku kesempatan menghela nafas. Ia bagaikan oasis di tengah dunia tandus. Tetapi cukupkah itu? Aku tahu ia adalah satu dari bentuk kesombongan metropolitan. Aku teringat beberapa waktu lalu, saat dimaki-maki petugas Pamong Praja karena tertidur di bulevar sebuah jalan protokol.

Ah… aku menengadah, menatap langit yang kian hari terasa kian pongah. Langit yang begitu bangga melukiskan gambar suram penuh kandungan timbal dan asap, langit yang semakin asyik merangkai seliweran kabel dan kawat, semakin bersuka ria dengan kilauan-kilauan dari kaca-kaca jendela dan dinding gedung yang menjulang. Ya, itulah kebanggaan! Persetan dengan sesosok manusia kerdil yang terbujur lelah di sudut sebuah bulevar! Aku kembali mengeluh.

Aku teringat kampungku yang ramah. Langit kampungku memang ramah, meski ia tak bisa memberiku naungan keteduhan, memberiku penghidupan, tetapi ia sering memberiku harapan, memberi mimpi. Kini, memandang langit Jakarta, sungguh membuatku merasa sekecil kerikil.

Aku mulai merasakan kebimbangan. Aku menatap kesibukan jalanan dengan hati miris. Bisakah aku memertahankan arah bidukku yang kian limbung melawan arus Jakarta ini? Semua seperti sedang berlomba, bahkan angin seperti terburu-buru, orang-orang seperti takut ditinggalkan waktu. Ya, apa boleh buat, aku sekarang sudah berada di Jakarta, tak ada jalan buatku selain ikut berpacu, aku mesti terus mencoba dan mencari. Perjuanganku selama ini memang berat, pedih dan nihil, tapi bukan berarti aku mesti menyerah begitu saja.

Perlahan kuhirup udara, mencoba mengumpulkan tenaga dan semangat. Jam dua tiga puluh, kemacetan kian padat. Aku berdiri, menyisir rambut dengan jemari, meski hembusan angin kencang membuyarkannya kembali.

Sebelum hari berubah malam, aku mesti mencoba peruntungan kembali. Uangku nyaris habis. Aku bahkan merasa sayang untuk sekadar mampir makan gorengan di sebuah warteg. Jika aku terus menurutkan kehendak perut, niscaya aku akan selamanya menggelandang di jalanan.