Lama juga saya absen dari hingar bingar blogsphere, setengah tahun barangkali. Tapi inilah saya!, saya belum mati, Saudara-saudara!

Tangan saya sudah teramat kebas, menggerus kulit demi kulit pohon karet, beribu batang, beratus hari, berpuluh minggu, berbulan-bulan. Pokok-pokok karet itu seakan menjerat putaran waktu, menjebak fragmen-fragmen kenangan, membekukan pergantian nasib; saya tetaplah saya, sang buruh penyadap karet, sungguh suatu paradoksalitas yang menyolok, ketika saya merenungi perjalanan getah karet itu sendiri.

Tetes demi tetes lateks-getah encer, mengalir sendat ke dalam batok, bergumpal menjadi odel-getah beku, hitam, menjijikan, busuk minta ampun, jauh lebih busuk dari telur busuk sekalipun. Tetapi ajaib, pada akhirnya dia mampu berubah, bertransformasi,bermetamorfosis menjadi sesuatu yang luar biasa, menjadi komponen kapitalis penting, menjadi alat tak terelakkan mobilitas manusia modern, menjadi merek-merek raksasa semacam Radial, Michellin dan Bridgestone. Ketika merenungi ini, apakah salah jika saya kemudian bertanya, mengapa saya tetap seperti ini adanya?

Kapalan di telapak tangan sudah tak terhitung. Gagang pisau penyadap yang tak seberapa berat itu telah membuat telapak ini nyaris serupa amplas.

Tapi, ah…lupakan saja. Sekarang, inilah saatnya saya memegang pena, saya ingin menulis!

Saya punya sebuah buku tulis, tempat biasa menghitung jumlah timbangan getah karet, tempat mereken bon-bon mingguan, juga tempat menumpahkan semua tekanan batin.

Ketika sedang menulis, entah mengapa saya seperti berada dalam halusinasi. Saya seperti bukan diri saya sendiri. Khayalan demi khayalan menampilkan fragmen-fragmen absurd, menggambarkan abstraksi ironis yang justru menohok kesadaran, bahwa setinggi apapun langit-langit impian manusia, toh akan kembali jatuh dan terpuruk di dasar realita.

Tapi saya sering merenung, apakah sebenarnya definisi realita? Apakah arti garis takdir? Dan pertanyaan-pertanyaan ini hampir merupakah sebuah pergulatan batin tiada akhir. Benar, tiada akhir, sebab hingga hari ini saya masih merasa yakin bahwa nasib saya hari ini seharusnya bisa lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus semakin lebih baik.

Lalu, muncul sebuah gugatan di nadir nurani saya, seharusnya saya tidak berada di sini, seperti ini, tapi di sana, seperti mereka, di langit sana! Yah, saya selalu memandang langit, dan demi Tuhan, saya ingin berada di langit.

Beribu kata bijak sudah saya baca, bahwa;
”Terimalah hidup apa adanya,”
”Mensyukuri nasib akan membuat hidup menjadi nikmat.”
”Janganlah engkau memandang langit!”
Tapi apakah semua itu bukan euphemisme dari ;
”Tak usahlah bermimpi yang muluk-muluk, tak usahlah mengharap perubahan nasib!” Sungguh, saya seorang pemimpi, yang muluk-muluk!

Teman saya, juga seorang buruh penyadap karet, menuduh saya Kufur Nikmat;
”Beruntung kau masih bisa makan, kenapa malah ‘menyesali’ nasib dan ‘iri’ pada keadaan orang lain yang lebih baik?” Silakan, jika andapun menghujat saya demikian.

Tapi, harap dicamkan, saya tidak ‘menyesali’ nasib, saya hanya ingin nasib saya bisa lebih baik, tak ada yang mampu merubah nasib saya sendiri yang merubahnya. Saya juga tidak ‘iri’ pada mereka di langit sana. Saya hanya merasa saya pun seharusnya bisa seperti mereka.

Apakah saya salah? Apakah saya tak boleh berubah? Apakah saya, seorang buruh penyadap karet, tak berhak bermimpi bahwa kelak bisa jadi seorang pejabat atau konglomerat?

(Tulisan ini dibuat setelah membaca postingan Memandang Langit Timur, dan Sendawa Blog Ayahnya Ranggasetya.)