Perkembangan IT sungguh menakjubkan. Arus informasi telah menyeruak masuk bahkan hingga ke gubuk-gubuk petani di pedalaman. Juga ke pondok saya yang reyot di ujung kampung. Di atas dipan bambu, di temani secangkir teh hangat dan sepiring rebus singkong,…*hhmmm…* saya begitu asyik menelusuri halaman demi halaman internet.

Memang luar biasa, dan seperti biasa, sesuatu yang luar biasa selalu melahirkan kontroversi. Banyak kalangan menyambut baik fenomena ini. Tak sedikit yang memandang pesimistik.

Banyak pakar mempertanyakan seberapa penting internet buat masyarakat kampung, seberapa besar ekses negatif yang bakal ditimbulkan.

internet masuk desa

Apa motif utama para provider itu hingga mereka begitu konsen mengembangkan jaringan hingga ke pelosok-pelosok pedalaman? Demi investasi masa depan? Sungguh suatu spekulasi berani mati. Atau sekadar mengemban misi untuk memperkenalkan internet yang tidak atau belum difahami masyarakat kecuali sebagai ‘kamasutra postmodern dengan doggie style-nya yang populer…’
*sarkatis banget! i
ni bahasa saya pribadi lho,…komentar para pengamat di media masa tentu saja lebih santun*

Saya, yang notabene adalah objek kontroversi itu tentu mulai berpikir, seberapa besar internet mempengaruhi kehidupan? Yah tentu internet tak akan membuat pondok reyot ini menjadi villa cantik idaman, juga tak membuat gaya hidup saya menjadi glamor. Internet tidak akan merubah saya menjadi siapapun. Saya tetap seorang buruh penyadap karet di pedalaman. Memang saya mengenal istilah ‘doggie style’ itu dari internet, tapi bukan membuat saya dan istri lantas jadi ‘beringas’.

Terus mengapa saya membutuhkan internet? Saya tak bisa menjawab sekarang.
Yang jelas, internet telah membuat pikiran saya mampu melompat ke luar dari kungkungan keadaan. Saya masih tetap miskin tetapi saya tidak pernah berpikir miskin, saya memang termarginalkan tapi saya selalu berusaha berpikir kritis, terbuka dan modern. Ini membuat saya memiliki ribuan khayal yang meski tak akan sanggup merubahnya menjadi realita, tapi saya merasa yakin, s
uatu
saat kelak anak saya akan menggapai kh
yal itu dan meletakkannya di pangkuan saya… *wah, terlalu berharap ya!*

Bagaimana dengan orang lain di kampung saya? Saya juga belum coba menyelidikinya. Apa sih pengaruh internet buat mereka? Yang jelas internet telah menjadi menu obrolan yang biasa bahkan di kedai-kedai kopi tempat segerombolan lelaki bermain gaple.

O ya, ada pengalaman menarik, ketika membeli pulsa di sebuah konter, ada seorang pelanggan berkonsultasi dg si pemilik konter.

“mas, minta alamat-alamat internet yang yahud dong!”, katanya. Wah, alamat yang yahud? Mau dong! Saya pun meminta juga. Ternyata, sang pemilik konter memberi saya puluhan link porno….

Jika seorang pemilik konter lebih mengkonotasikan internet dengan pornografi, bagaimana dengan segerombolan lelaki yang sedang bermain gaple…? Mempergunjingkan ‘doggie style’ barangkali?
Tentu tidak semuanya, yak… Mudah-mudahan tidak semuanya.