Jajan adalah kultur, ia di bentuk dari sebuah proses sejarah. Ia tidak seperti hasrat biologis-misalnya, yang adalah sebuah fitrah. Jajan terlahir dari ekses. Kehidupan makin menuntut manusia untuk semakin fokus, kemudian terbentuk rutinitas, ekses rutinitas ini yang menumbuh-kembangkan Jajan menjadi komoditi yang amat besar sekarang ini.

Mulanya manusia tak pernah mengenal Jajan, karena hidup mengalir apa adanya. Tidak ada tenggat apalagi target. Kehidupan manusia purba yang nomad menjadikan mereka tak pernah memikirkan esok. Ada sekarang, makan sekarang. Tapi mereka lepas dari beban Jajan. Semuanya bagi mereka adalah makanan, semua adalah cara untuk bertahan hidup, bahkan aktivitas yang menurut manusia modern bernilai seni-di buatnya benda-benda magis yang artistik, misalnya, bagi mereka tak lebih dari sekadar menghindari petaka, mencoba melawan nasib, mempertahankan hidup. Mereka tak pernah mengenal Seni, mereka tak pernah Jajan.

Saat tata cara nomaden di tinggalkan manusia, kehidupan berangsur semakin kompleks. Terlahir sistem, yang menuntut manusia untuk menciptakan Sketsa. Dan masing-masing individu menjalani peran masing-masing berdasarkan Sketsa. Semakin fokus pada Sketsa-menurut teori manusia, kemungkinan untuk sukses semakin besar.

jajan

Pada masing-masing zaman, Sketsa manusia tentu berbeda-beda. Sekarang kita mengenal dari sejarah bagaimana bangsa Babylonia membuat Sketsa hidup mereka. Hukum, ilmu pengetahuan, perdagangan, pertanian, adalah Sketsa yg memberikan arah perjalanan kehidupan mereka. Ketika membicarakan bangsa Mesir kuno, Sketsa mereka tentu berbeda.

Sketsa bukanlah fitrah, ia peradaban manusia yang lahir dari semangat untuk menciptakan tatanan hidup yang lebih baik. Satu hal yang, di sadari atau tidak, menjadi titik krusial sekarang adalah, Sketsa menciptakan sebuah mekanisme mesin, manusia tak ubahnya komponen-komponen paten. Dia tak bisa berperan lain, profesionalisme adalah sutradara yang akan selalu menuntutnya untuk patuh. Skill adalah tali kendali ibarat tali cucuk pada cuping hidung. Manusia menjalani hidup dengan monoton.

Namun Tuhan menciptakan manusia beserta fitrahnya. Jiwa yang dinamis, hasrat untuk bebas, tak akan pernah surut dari naluri azas manusia. Maka manusia mencari Jajan.

Anak saya akan lebih bersemangat menjalani rutinitas sekolahnya, jika ia di bekali uang jajan. Ini bukan cuma soal rasa atau citra jajanan itu, melainkan pengalaman dari proses Jajan itu sendiri. Ini lebih ke soal “rekreasi”nya.

Industri jajanan, sudah sedemikian kompleksnya. Di mulai dari, kedai, rumah makan, restoran, cafe, bar, hotel, turisme, Seni, film,… sudah terlalu sulit untuk merinci “jajanan” manusia modern sekarang. Dan sudah terlalu rumit mengkalkulasi berapa prosen ketergantungan dunia padanya. Ini mungkin tidak akan pernah di bayangkan manusia-manusia lampau, betapa Jajan kini telah menjadi motor utama dunia. Kini Jajan bukan lagi sekadar aktivitas relaksasi dari rutinitas, Jajan telah menjadi simbol, ikon, bahkan menjadi dewa.

Jajanan paling masyur yang menjadi dewa kontemporer, adalah gaya hidup budaya populer yang di distribusikan Barat, Hollywood, sebagai contoh. Dan inilah yang membuat stereotif Jajan menjadi penting, dia kini bukan saja berlevel Hiburan, bukan sebatas entertaintment, ia adalah media, alat, dan bahkan senjata. Ia menjadi bagian penting dalam selembar Sketsa, ia adalah komponen utama sebuah Sistem, Kapitalis.

Mungkin anda setuju bahwa Seni adalah Jajan. Tapi mungkin anda tidak setuju bahwa kecenderungan manusia akan Keindahan (seni) bukanlah fitrah. Banyak yang berpendapat bahwa kecintaan manusia akan Keindahan adalah sebuah “basic instinc”.

Keindahan adalah relatif, ia bukan fitrah yang mestinya bersifat absolut. Kita dengar cerita masyarakat Romawi yang begitu gemar menonton pertunjukan maut gladiator yang dicabik singa lapar di colloseoum. Bagi mereka itu adalah keindahan, itu bercita-rasa seni tinggi. Apa jadinya jika pertunjukkan macam itu disajikan di depan masyarakat modern kini? Seorang maniak pembunuh macam Hannibal Lecter pun saya rasa akan merinding bulu tengkuknya. “Justru disitulah seninya!”, Ya, dan itu semakin menjawab persoalan bahwa seni bukanlah fitrah.

Sesungguhnya, fitrah manusia adalah kecenderungan untuk mencintai keseimbangan, bukan keindahan. Teori keseimbangan ini banyak dikemukakan kalangan agamawan, psikiater, saintis, meliputi segala lingkup ilmu dan tata hidup. Dan ketika Jajan telah diyakini manusia sebagai media untuk meraih keseimbangan itu, saya berpikir, tepatkah keyakinan itu?

Pengakuan akan kebutuhan manusia modern terhadap Jajan, bukan menjadi soal, namun permisivisme itu menurut saya sudah jauh keblinger. Silakan simak sebuah cerpen karya Ratih Kumala yang di muat di Kompas edisi 7 Juni 2008 berjudul “Rumah Duka”, anda akan melihat betapa tokoh istri dalam cerpen itu, lebih mengizinkan suaminya “jajan” ketimbang memelihara “simpanan”, Ratih Kumala menyebutnya “anjing”. Anda bisa membaca cerpen itu versi online di http://www.sriti.com/story_view.php?key=2815

Yah, saya cuma bisa berpendapat, sekali lagi, bahwa Jajan bukanlah fitrah manusia.