Masih dalam rangka mengenang saat-saat kebersamaan itu (entah mengapa saya sekarang jadi teramat sangat sentimental, ada yg tahu terapi terbaik buat menanggulanginya?), saya teringat pada satu momen sembilan belas tahun silam. Bulan Agustus tahun 90, sepulang sekolah saya langsung asyik main kelereng di pekarangan rumah bersama beberapa orang teman. Masih berseragam putih-merah, tak sempat lagi berganti pakaian.

Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar bunyi raungan keras, yang bikin kami semua bengong. Saya pikir ibu marah karena pakaian sekolah saya berdebu dan penuh tanah kotor, rupanya itu adalah bunyi tip dek yang berdentam dari kamar paling depan.

Kami segera berlarian mengejar hingar-bingar itu, ingin tau. Semakin dekat, bunyi itu semakin jelas terdengar, semakin menggelegar, semakin membuat kuping kami bergetar. Bunyinya ibarat raungan jet supersonik yang terbang merobek langit.

Saya tertegun, itu adalah suara musik yang baru kudengar pertama kali seumur hidup. Ketika teman-teman lain kembali ke kelereng masing-masing, saya masih diam mematung. Ada sesuatu merasuki jiwa, merambat masuk melalui kuping dan terus menembus memacu adrenalin. Ada satu kenikmatan di balik bebunyian sangar itu, satu estetika khas yang sama sekali tak sederhana, sebuah ritme unik yang terberai dari ledakan chaos….

Belakangan saya tahu, itu adalah bunyi Sepultura, band asal Brazil pengusung genre Trash Metal.

Ketika saya mengintip ke lubang kunci, tampak kakak saya tengah menutup kuping, mulut meringis dan mata terpejam, nampak menderita benar. Tentu saja, karena gelegar Sepultura itu bahkan sanggup mengguncang kaca-kaca jendela.

Belakangan juga saya tahu, ternyata kakak saya cuma sekadar “pamer testosteron”, bahwa dia maskulin. Kebetulan saat itu cewek yang dipujanya akan lewat di gang dekat rumah kami, maka sepultra adalah pilihan terbaik. Hipotesis ini tepat, karena hari-hari berikutnya ia kembali memutar Doel Sumbang dan Iwan Fals, atau bahkan Rhoma dan Mansyur S, hi hi hi…., menggelikan!

Akan halnya saya, pesona pertama Sepultura itu membekas lama. Sayapun sering masuk diam-diam ke kamar kakak dan memutar musik bising itu pelan-pelan. Semakin lama, saya semakin jatuh cinta, maka akhirnya saya benar-benar jadi metal mania.

Ketika usia menginjak 13, saya mampu membeli kaset pertama, saya ingat betul judul dan kemasannya. The Black Album, Metallica.

Pencarian jatidiri terus berlanjut, beragam band-band kelam semacam AC/DC, Megadeth dan Iron Maiden, menjadi konsumsi tiap hari. Saya fanatik berat. Pada masa itu saya memandang sebelah mata semua jenis musik selain Heavy Metal. Saya tak suka rock and roll, apalagi pop cengeng bin mellow atau musik-musik joget ala disko dan dangdut.

Saya benci Nirvana, dengan segala atribut alternatifnya. Saya mengolok-olok Greenday yang seakan bangga dengan kesederhanaan/kemiskinan musiknya. Saya tak suka Helloween yang terlalu memaksakan melodi. Saya anggap Queen dan Bon Jovi itu banci. Saya bosan dengan Gun’s ‘N Roses yang terlalu memamerkan cengkok ala Axl Rose, yang diperparah oleh jeritan-jeritan nyinyir gitar Slash. Apa itu Mr. Big? Dep Leppard? Kiss, Aerosmith, U2 dan Eric clapton? Uh, saya tetap seorang Metal Mania.

Itu dulu, hampir dua dekade yang lalu. Sekarang, tahukah anda apa yang selalu saya lantunkan setiap mandi? Hehehe… Jamilah jamidong! Atau…apa itu ya lagu barunya Wali, “Cari jodoh”, barangkali.

Saya menyanyikan lagu-lagu itu dengan hati tersiksa, karena jika tidak…anak saya tak mau menyelesaikan mandinya…

Sekarang, ketika anak itu berada jauh di sana, ternyata diam-diam saya masih saja menyanyikan lagu-lagu itu sembari mandi: “Ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku, aku yang tengah malu……tak laku-laku”🙂