Hari Senin-13 Juli, ketika saya sedang asyik mengiris kulit demi kulit pohon karet, ketika pikiran sedang hanyut dalam keheningan hutan pagi itu, saya menerima telepon dari anak saya, \”Pak, hari ini Dias mulai masuk sekolah!\”

Ah, betapa bangga hati ini, sama bangganya dengan saat-saat ketika saya mengangkat sang bayi merah itu sambil menyerukan Takbir, hari pertama dia menghirup udara dunia.

Seketika langkah yang tersaruk menjadi ligat, tangan yang lemah mendadak gesit. Anakku, buah hatiku, kini mulai menyusun rangkaian kehidupannya. Saya, tak bisa lagi berleha-leha. Sebentuk cita-cita yang dulu pernah menghasi mimpi-mimpi, kini wujud kembali. Anakku, kelak akan menggapainya.

Yak, saya belum tua. Usia 30an bagi sebagian orang masih terlalu dini untuk menyerah dan mengaku gagal. Tetapi saya memang telah gagal, saya tak akan pernah berhasil meraih apa yang dulu pernah di cita-citakan.

Sistem tak pernah berpihak, keadilan manusia semu, si miskin, si bodoh, si lemah, si papa, tak akan pernah berubah nasibnya. Hanya pendidikan yang mampu mengubah hidup. Ya, pendidikan… ketika saya semakin tersaruk dalam rimbun kebun karet, saya sadar, saya semakin terisolir dari sumber-sumber ilmu dan pendidikan. Saya semakin terkubur dalam kemiskinan.

Maka, anakku, jangan sia-siakan waktu dan kesempatanmu itu. Hanya kau harapan agar semua yang pernah Bapak cita-citakan, kelak akan menjadi kenyataan.

Hari ini saya dapat telepon lagi darinya \”Pak, hari ini Dias pergi sekolah sendirian…tidak lagi diantar Ibu!\”

Batang karet yang berjajar rapat, seakan ramai memberiku selamat. Batok-batok yang lama tergeletak, kini seakan ramah dan mengajakku terus bercerita tentang segala asa yang dulu pernah ada, tetesan lateks itu juga ikut menyanyikan kegembiraannya. Terima kasih Tuhan.

PS: Maaf, saya berbangga disaat bangsa ini berduka, bom itu, terus terang mengotori kebahagiaan saya!