Cukup rumit untuk memetakan konsep hubungan kita dengan negeri tetangga, Malaysia. Jiran terdekat ini memang memiliki hubungan emosional dan sejarah yang tak terpisahkan dari kita. Rumpun Melayu, yang meliputi semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, sebagian Jawa dan Sulawesi, tak pelak merupakan fakta yang tak bisa dibantah, bahwa antara kita dan mereka bersaudara.

Tetapi semua faham, hubungan sejarah yang lekat dan manis itu tak semanis realita kini. Boleh dikata, saat ini hubungan Indonesia Malaysia berada dalam situasi yang buruk, bahkan mungkin yang terburuk semenjak gesekan-gesekan konflik dimulai zaman revolusi dahulu.

Memang kita belum mendengar ada pejabat negara yang mengeluarkan statemen “keras” seputar konflik dengan Malaysia. Namun gejolak luar biasa dikalangan masyarakat umum begitu terasa. Memang kita belum mendengar jargon “ganyang Malaysia” kembali bergaung dikalangan petinggi istana atau politisi Senayan. Tapi kita sadar emosi ini sudah sedemikian kuat. Bahkan riak-riak kecil semacam kasus Manohara yang tak ubahnya “opera sabun”, ditanggapi secara ekstrem sebagai penghinaan nasional.

Emosi kita memang sudah sampai ke ubun-ubun, itu bisa dimengerti. Akumulasi kejengkelan akibat klaim-klaim sepihak dan arogansi Malaysia telah terlalu sulit untuk ditolerir. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, ada perbedaan mendasar yang membuat kita dan mereka selalu terjebak dalam cekcok.

Saya pernah membaca sebuah berita, tentang seorang pejabat Malaysia yang mengeluarkan kritik berani soal kebebasan pers di Indonesia. Menurutnya, media Indonesi terlalu bersemangat dengan kebebasan yang “diberikan” semenjak jatuhnya orde baru. Kritik ini berkaitan dengan pemberitaan media-media Indonesia seputar tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Disini jelas kita melihat bahwa pejabat itu tidak memahami betul perjalanan sejarah kita. Kebebasan pers, yang adalah tonggak utama hak-hak asasi manusia, yang dapat kita nikmati kini, bukanlah sebuah “pemberian”.

Kebebasan kita bukanlah sebuah anugrah, kebebasan kita ditebus dengan darah dan air mata, perjuangan tak terhingga, mengorbankan ribuan nyawa. Sejak revolusi meletus bangsa kita senantiasa bergulat akan arti kebebasan hakiki. Kita berhasil merebut kemerdekaan dengan semangat dan amarah yang meluap. Kita mendobrak kebobrokan ORLA, menghancurkan tirani ORBA juga dengan perjuangan panjang aksi-aksi massa yang mengguncangkan seluruh negeri, mengorbankan banyak nyawa generasi pemberani. Tak ada yang gratis atas pengakuan hak-hak asasi manusia di negeri ini.

Inilah perbedan kita dan Malaysia.

Malaysia memang punya ekonomi lebih maju ketimbang Indonesia, tak banyak korupsi dan masyarakatnya relatif damai, tak ada terorisme. Tapi ada satu hal yang tak dimiliki bangsa itu, revolusi. Revolusi untuk merebut kemerdekaan, kebebasan dan pengakuan hak asasi.

Hingga kini Malaysia tak pernah merasakan perjuangan dengan pengorbanan yang radikal. Sebab itu mereka dengan mudah membungkam pers, menjatuhkan lawan-lawan politik. Maka, dari latar belakang seperti inilah, Malaysia kerap membikin tensi emosi tetangganya menggelora. Persepektif yang berbeda ini tentu menimbulkan kesalah-fahaman. Inilah salah satu hal yang patut menjadi bahan renungan, bila kita memang masih merasa bersaudara.

disarikan dari TEMPO, 13 January 2008 dengan penambahan redaksional maupun opini