Semakin lama berlangganan Indosat, makin parah hipertensi saya. Nah lho? Iya, jika anda menjadi saya sekarang, entah serapah macam apa bakal menyembur dari mulut anda.

Ini tentang kesabaran. Bahwa manusia sabar disayang Tuhan, itu mitos, atau kalau memang hukum, saya belum pernah tahu seperti apa dalilnya. Jadi, kesabaran versi saya, ada batasnya. Iming-iming disayang Tuhan, jika pilihannya sudah sedemikian sulit hingga membuat darah saya makin bergejolak, saya jengah juga.


Apa sih masalahnya?

Yak…orang jengkel memang sering bertele-tele. Ketika satu kalimat muncul dikepala dan siap dimuntahkan, muncul pula kalimat-kalimat lain yang menekan perasaan. Semakin membuat frustrasi.

Jengkel, marah, sumpah-serapah, adalah reaksi wajar yang seharusnya disalurkan. Bukan untuk diredam dan diperam supaya jadi bom waktu yang satu saat pasti akan meledak. Marah dan sumpah-serapah bahkan bisa memancing kreatifitas. Contohnya saya, dua hari kebingungan mencari ide buat postingan, tak sedikitpun ketemu ide. Semua wacana rasanya sudah digarap orang. Termasuk PILPRES kemarin yang pastinya telah menjadi bahan postingan ribuan blogger.

jadi apa masalahnya dengan Indosat?

Masalahnya? Heh…? Dari dulu Juga Indosat selalu dirundung masalah, sejak dicaplok Temasek holding hingga dicomot QatarTel. Tapi toh kita (saya) tak punya kepentingan apapun dengan akuisisi itu. Cuma sebatas rasa nasionalisme buta saja, asset yahud macam Indosat kok jadi milik bangsa lain.

Yah, orang-orang gede di atas sana mungkin punya kalkulasi seribu kali lebih canggih dari pada pemikiran saya. Akuisisi mungkin jalan terbaik buat Indosat, sebagaimana Telkomsel, atau ratusan perusahaan nasional lain yang kini jadi milik asing. Demi meningkatkan mutu layanan, memberi nilai tambah buat pelanggan, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan ujung-ujungnya menambah untung perusahaan, negarapun untung dari ppn….entahlah!

Apa benar begitu?

Ya…perusahaan semakin mencetak laba besar itu memang benar, tapi semakin memberi kepuasan pelanggan? Itu mesti di pertanyakan.

Tulisan pertama saya di blog ini adalah tentang Tarif GPRS, yang salah satunya menyoroti Indosat. Saya menulis bahwa Indosat membuat saya jadi tukang ronda, terutama karena saya memakai Indosat buat internet. Kenyataannya sinyal GPRS Indosat didaerah saya cuma muncul secara normal dini hari buta. Yah dari dulu begitu, sampai sekarang pun tetap begitu, pada hari-hari biasa sinyal Indosat bagai siput gemuk bengkak bisulan berjalan tersendat-sendat…lambaaaaat! Anda tak percaya? Silakan datang ke tempat saya! Dijamin, sebelum sempat membuka satu halaman internet, hp sudah anda banting duluan.

Mana pelayanan dan nilai tambah yang dijanjikan (dalam iklan) manajemen Indosat buat pelanggan?

Parahnya lagi, Indosat makin terjebak dalam perang tarif yang bukannya membuat konsumen senang, sebaliknya malah semakin bingung. Hari ini saya nelpon murah banget, kemarin nelpon sebentar pulsa jeblok, besok entah bagaimana lagi skema pentarifannya. Membaca tabel tarif di situs resmi Indosat, saya menggelengkan kepala, tak faham bagaimana rumusannya.

Alih-alih memperbaiki kualitas layanan, meningkatkan jumlah BTS sampai ke pelosok, Indosat malah terus asyik dengan eksperimen mercusuar semacam HSDPA, Blackberry, dan tetek bengek lain yang entah bila-bila kami bisa menikmatinya.

Satu lagi, ini yang buat saya emosi, Indosat ogah menerima komplen pelanggan. Saya pake IM3, mengajukan komplen ke call centre mesti bayar 400 rupiah sekali call. Aneh…ketika berbagai perusahaan lain berlomba meningkatkan interaksi dengan pelanggannya, Indosat malah membatasinya. Atau jangan-jangan Indosat mau ngambil untung juga dari trafik panggilan ke call centre itu? Kalau begitu, sungguh memalukan! Sekali lagi memalukan! Hampir semua perusahaan besar memberikan akses mudah ke customer care mereka, ada yang namanya layanan bebas pulsa (toll free), Indosat malah mengambil keuntungan dari customer care mereka? Saya usul, Yayasan lembaga konsumen Indonesia memperhatikan hal ini secara serius, sebab…akses ke customer care, atau apapun namanya, adalah hak konsumen, perusahaan wajib menyediakan sarana untuk pengaduan.

Yang terakhir, dan ini yang membuat saya emosi biner…ternyata customer care yang cuma bisa diakses dengan berbayar itupun tak bisa diakses juga. “Nomor yang anda tekan, tidak terdaftar”, begitu notifikasinya. Jadi… Indosat membohongi pelanggannya? Saya coba lagi telpon, saya pijit pelan-pelan 100, saya rela bayar 400 demi sebuah komplen, tapi tetap tak ada jawaban.

Marah dan sebal, sayapun terpaksa kirim email ke icare@indosat.com, email saya di balas dg pemberitahuan bhw alamat email lanSudah pindah ke _care@indosat.com. Sayapun menulis ulang, demi sebuah komplen….

Tapi Indosat benar-benar ogah menerima komplen, email saya dikembalikan oleh Gmail dengan failure notification…

Indosat rupanya mau ngajak saya perang. Ah, tapi…tiba-tiba saya tertawa dalam amarah, mengapa harus repot mikirin Indosat? Ah, goblok amat, operator lain masih banyak kok! Saya pun berjingkat hendak mencabut simcard, Goodbye Indosat!