Alhamdulillah, setelah lama “mati suri”, akhirnya blog ini jaga kembali. Ada banyak sebab dan terlalu banyak kisah untuk diceritakan dalam sebuah kalimat, tentang mengapa saya tega menelantarkan blog yang baru seusia cendawan ini. Tapi, lupakan saja! Itu bukan hal penting, apalagi di saat saya cukup lama absen menyapa, menebar silaturahmi, berkunjung dan berkomentar di blog teman-teman sekalian.

Baiklah, saya anggap ini awal, meski tentu bukan sebenar-benar awal. Maksudnya setelah lama rehat dan mengisolasi diri dari hiruk-pikuk dunia cyber, saya menemukan nilai-nilai baru dalam dunia blogging, yaitu ikhlas dan apa adanya. Terus terang, motivasi awal saya ketika mulai ngeblog, sangat jauh dari dua kata di atas.

Saya menemukan kenyataan, bahwa sebuah blog tetaplah blog, diary virtual yang memang cuma sebatas ungkapan atau ekspresi dan opini seseorang. Tak lebih. Semua yang dituliskan, di deskripsikan, di putar ulang, dalam sebuah blog tak akan menghasilkan apa-apa, (termasuk blog-blog besar yang dijejali berbagai iklan dan post-post review pesanan, sebab dollar yang mengalir bukan berasal dari isi, tema dan kualitas postingan). Betapapun hebatnya sebuah postingan, tetaplah sebuah postingan blog, tidak ada apa-apanya, tidak punya kekuatan untuk sebuah kajian intelektual. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa tulisan di blog adalah sampah yang kian hari kian mengotori ruang-ruang internet, tak ada validitasnya, tak bisa dipercaya, tak punya dasar dan sumber rujukan, tak bisa dipertanggung-jawabkan…..yah, dan sederet kelemahan lain.

“Seperti blogger saja, wartawan sekarang bisa menulis sekehendak udel mereka di koran!” gerutu FRED DURST, vokalis LIMP BIZKIT yang kerap diberitakan negatif di koran dan tabloid infotaintment. Bagi Durst, blogger tak lebih dari para pembual kurang kerjaan.

Jadi, berangkat dari stereotif itu, saya berusaha memperbaharui niat saya dalam menulis di blog. Saat mula pertama menulis di blog ini, beragam cita-cita ideal terpatri dalam hati, saya ingin berpartisipasi dalam menyemarakkan dunia tulis menulis, saya ingin ikut mempropagandakan sikap kritis dan dinamis, saya ingin ikut menyumbang pemikiran dalam ilmu pengetahuan, saya ingin…saya ingin…dan saya ingin… Bullshit, omong kosong semua! Sekali blog tetap blog, orang tetap akan anggap itu tak lebih dari kentut.

Paling-paling, orang akan melirik blogger ketika dia sudah menjadi konsumsi media karena berani membakar jenggot penguasa/pengusaha. Seperti Ibu PRITA yang mendadak sepopuler selebritis hanya karena tulisan sederhananya tentang OMNI disikapi oleh manajemen RS swasta bertaraf bertarif internasional itu dengan arogansi dan tindakan konyol dan tolol. Ada banya contoh lain tentunya.

Maka, tak mau idealis lagi, saya sekarang cuma punya satu niat ikhlas, tak muluk-muluk, sekedar mau numpang menulis. Tak ada cita-cita, tak ada target, tak ada udang di balik combong!

#Oalaaah…ini berarti Adyaswara berhenti nulis kritik politik?# Tidak, tulisan saya tak akan berubah, hanya niat (yang cuma saya dan Tuhan yang tahu) yang akan coba saya ubah. Segala sesuatu berpangkal dari niat, semoga dengan niat yang (mudah-mudahan) lebih baik, tulisan saya juga menjadi lebih baik. Amin!