Begitu banyak hal yang membuat kita (masyarakat awam) merasa ‘eneg’ mendengar kata ‘Malaysia’, mulai dari klaim sepihak folksong “rasa sayange”, sabotase Sipadan-Ligitan, Ambalat, reog, batik… dan lama-lama boso Jowo akan di klaim sebagai bahasa “turunan” nenek moyang Malaysia,… weleh, ngawur!

Kita menikmati dengan asyik berita mengenai deface situs-situs malaysia oleh para peretas Indonesia, yang mulai marak kembali beberapa waktu lalu.

Cyberwar yang sudah lama berlangsung nampaknya tak akan berhenti, gambar dibawah menunjukkan salah satu situs Malaysia yang di acak-acak “dedemit maya” Indonesia.

Bukan cuma itu, artikel-artikel bernada caci-maki, bahkan postingan rasis dan sarkatispun bertebaran di dunia maya. Silakan masukkan keyword “malingsia” di google, anda akan menemukan puluhan bahkan mungkin ratusan ribu halaman internet yang meneriakkan sumpah serapah anti Malaysia itu. (malingsia! = bangsat kau!/bahasa Sunda).

Apakah aksi perusakan situs-situs itu ada hubungannya dengan kekecewaan kita terhadap klaim-klaim Malaysia dan tingkah arogan mereka selama ini? Saya tak tahu, yang jelas para petinggi kedua negara nampaknya akur2 saja, dan memang begitu seharusnya.

Tapi, arus politik negeri ini selalu dinamis. Pasca pemilu 2009 peta kekuatan penentu kebijakan bisa saja berubah. Jika isu tentang klaim-klaim oleh Malaysia, isu cyberwar, isu seputar hubungan panas kedua negara itu digulirkan para politisi…maka sejarah mungkin akan terulang.

Memang, dongeng nenek kita tentang Indonesia-Malaysia sebagai bangsa serumpun yang bersaudara, adalah cerita BASI, meski memang faktanya begitu tapi tak lantas membuat kita respek kepada negeri jiran yang angkuh itu.

Memang, klaim sepihak yang dilontarkan para “encik” itu sudah diluar batas toleransi.

Memang, perlakuan mereka terhadap para pahlawan Indoneia (TKI/TKW=pahlawan buat keluarganya dan buat devisa) sungguh sudah sangat keterlaluan. Tetapi apakah itu bisa dijadikan alasan politis untuk kembali mengulang sejarah kelam tahun 60-an, ketika mobilisasi rakyat secara besar-besaran dikerahkan ke perbatasan (baik mobilisasi fisik maupun psikis), propaganda dan syair-syair anti Malaysia bahkan pernah menjadi nyanyian wajib anak-anak sekolah dasar (SR) ??

Ketika konflik antara dua negara sudah sedemikin pelik, konfrontasi tak terelakkan lagi, senjata angkat bicara!!!

Sejarah mencatat, di belahan dunia manapun, perang akan berakhir dengan kerugian, kalah jadi abu menang jadi arang. Dalam perang perbatasan Indonesia-Malaysia tercatat tak kurang dari DUA RIBU tentara kita gugur sia-sia, sebagian adalah para sukarelawan (paramiliter). Pada akhirnya yang tertawa tentu saja para peniup tungku.

Konfrontasi Indonesia-Malaysia memang tak bisa disebandingkan dengan, perang saudara Iran-Irak- misalnya. Terlalu jauh untuk menggagas bahwa itu adalah skenario tertentu dari konspirasi tertentu. Tetapi perang tetap menghasilkan hal yang sama, kehancuran di kedua belah pihak, kemenangan bagi para pemasok senjata.

Kita beruntung, masih ada pemimpin negeri ini yang lebih mendahulukan langkah diplomasi ketimbang bermain jurus adu bogem. Pada tanggal 1 Agustus 1965 Perselisihan diakhiri dengan ditandatanganinya sebuah perjanjian damai, dan diresmikan 2 hari kemudian.

Era soekarno sudah lama berlalu, “ganyang Malaysia” kini cuma lagu yang terlupakan, tetapi benih perselisihan selalu muncul, silang sengketa tak pernah usai. Akankah kita hadapi ini dengan berpikir mundur, berpikir ala era 60-an dimana “patriotis revolusinoer” masih menjadi euphoria? Akankah kita hadapi ini dg emosi dan kekerasan?

Kekerasan bukan hanya berarti senjata berat, tank dan rudal. Kekerasan bisa juga pengrusakan fasilitas kecil semacam situs-situs internet. Aksi deface trhadap situs internet yang tidak terkait dg isu/perselisihan adalah juga kekerasan.

Maaf, ini semua hanyalah opini saya, sebagai buruh tani lugu. Saya tak mau ada sengketa, saya mau damai-damai saja.

Jika isu ini hanya menjadi wacana dikalangan orang kecil seperti saya, mungkin yang trjadi hanyalah riak-riak kecil, demonstrasi, sumpah serapah tak berguna. Bagaimana jika wacana ini kemudian menyeruak masuk ke gedung parlemen atau istana negara? Saya tak mau membayangkanya….

Tentu saya percaya, para pmimpin kita adalah orang-orang pilihan Tuhan, mereka akan menyikapi semua persoalan dng pandangan jauh kedepan dan otak dingin, bukan dengan cara primitif beradu kekuatan, saling pertontonkan “kemaluan”, maaf…!!

Malaysia arogan, Malaysia suka main klaim, hadapi dengan akal sehat dan nalar, Agar kita tidak melulu kalah dalam forum-forum internasional. Mahkamah internasional di Belanda yang memenangkan Malaysia dalam kasus sipadan dan ligitan, kiranya perlu kita jadikan bahan renungan, bahwa kita masih tertinggal jauh dalam hal negosiasi global. Kalahkan kesombongan negara jiran itu dengan diplomasi yang elegan. Dan satu fakta yang tak akan pernah dapat kita sangkal, bahwa kita adalah bersaudara.

*PEACE!!!*