Sejak pemerintahan SBY gencar melakukan kampanye anti illegal logging, kabar atau isu tentang “kejahatan besar” ini perlahan berangsur sepi. Berita tentang soal ini jarang terdengar lagi di media massa. Kampanye itu berhasil…?

Di taraf nasional, bisa di bilang begitu. Beberapa cukong kayu kelas kakap (dengan jaringan internasional) telah berhasil di tangkap. Jutaan meter kubik kayu balok berhasil disita dan ditumpuk di mapolsek, mapolres, mapolda dan kemudian di lelang ke masyarakat.

Mudah-mudahan begitu, dan mudah-mudahan pemenang lelang itu bukanlah oknum yang kongkalikong dengan pemilik lama. Mudah-mudahan pula, kabar burung bahwa harga jual pada lelang itu jauh dibawah harga standar, adalah kabar burung yang benar-benar dari “burung” (bo’ongan). Semoga!

Itu secara nasional, ya! Sekarang silakan engkau jalan-jalan ke kampungku atau ke kampung-kampung lain di pedalaman. Engkau akan melihat hal sebaliknya.

Beberapa bulan terakhir illegal logging mulai marak bahkan semakin marak. Memang, tidak melibatkan cukong atau bos berskala besar. Tidak ada trailer-trailer berat dan buldoser. Mereka hanya para tauke kayu bermodal kecil dan juga menggunakan fasilitas kecil. Menebang kayu secara manual mengunakan “senso” (machine saw), dan mengangkutnya ke kampung menggunakan sepeda motor. Kayu-kayu tersebut ditebang lalu digesek menjadi kayu persegi untuk kemudian di angkut.

penggundulan-hutan
Penggundulan Hutan

Bisa jadi, mereka menebang kayu dari kebun-kebun pribadi milik mereka sendiri, atau milik orang lain, yang di beli per batang atau per kubik.

Mereka hanyalah pembabat kecil, spesifikasinya hanyalah “illegal logging kelas kampung”, tapi illegal tetaplah illegal, itu tetap saja “kejahatan”.

Bagaimana tindakan polisi kita? “Ah, pak polisi kita memang aneh, narkoba yang disembunyikan dalam celana dalam bisa ketahuan, illegal logging di depan hidung tak kelihatan”. *ungkapan ini kutemukan ketika sedang blogwalking, tapi lupa di mana tepatnya!* Tak kelihatan atau pura-pura tak terlihat, aku tak tahu. Yang jelas “aksi besar-besaran” ini sudah menjadi rahasia umum. Semua orang tahu, bahkan orang buta tuli pun tahu, kalau pak polisi sampai tidak tahu, mereka lebih buta lebih tuli….maaf, hehehe, just kidding!

Illegal logging kelas kampung ini kusebut sebagai “aksi besar-besaran”, karena memang begitu banyak orang terlibat didalamnya. Ada berapa orang tauke, masing-masing memiliki berapa orang penebang, berapa orang penggesek, berapa orang pengangkut, berapa orang penampung, berapa orang penerima duit sogok…??

Aku khawatir, mungkin seperempat penduduk di kampungku sudah terjun ke dunia “berbahaya” ini. Satu hal saja yang menyebabkan kondisi ini, krisis global. Harga komoditas pertanian seperti sawit dan karet anjlok, sebagian besar masyarakat jatuh miskin, dan illegal logging adalah satu solusi instan.

Mungkin kerugian negara akibat “illegal logging kelas kampung” ini tidak begitu signifikan, efek negatif bagi lingkungan pun tidak terlalu besar. Tapi… bagaimana jika ini bukan hanya terjadi di kampungku, tapi juga di kampungmu, kampungmu, kampungmu, dan kampung-kampung lain di Indonesia?

Ah, PERSETAN! Apa peduliku? Aku bukan mau bicara soal kerugian negara, atau efek negatif illegal logging terhadap lingkungan….BASSSIII ! Aku cuma mau bilang bahwa tekanan darahku semakin meningkat akhir-akhir ini, *lho…apa hubungannya??*

Sudah sejak lama, sehabis menyadap karet, aku melepas lelah dengan minum teh pahit, membuka opera mini, membaca blog-blog favorit, mengantuk… kemudian tertidur lelap.

Tapi, itu sama sekali tak bisa kulakukan sekarang. Bunyi dengung “senso” yang terus bergaung sungguh membuat konsentrasiku amburadul. Gaungan itu berasal dari kiri, kanan, depan, belakang… selalu membuatku blingsatan.

Hei… jangan anggap sepele bunyi gaungan mesin “senso”, bunyinya begitu nyaring (mungkin hingga jutaan desibel !!), masih bisa terdengar jelas hingga jarak dua kilometer. Bayangkan…

Celakanya lagi, para penjagal kayu ini berkerja amat rajin dan profesional, mereka mulai kerja jam tujuh pagi hingga jam enam sore… Wadddoh! Insomniaku makin menjadi, tekanan darahku semakin labil. Ketika bunyi dengung itu mendenging, ubun-ubunku terasa berdenyut sakit, emosiku meluap…

Hipertensiku mulai akut. Nah, apa yang harus kulakukan sekarang? Lapor pak polisi? … Atut ah, nanti malah kena getok centeng tauke kayu balok… *kan ada pak polisi?//eits…zaman sekarang susah membedakan, mana polisi mana centeng…*