Aku terbangun telanjang. Angin dingin menusuk pori, menghimpit kerongkongan, meredam jerit panikku menjadi sebuah cicit kecil, seperti decit tikus dalam cengkeraman kuku si kucing maut, “di mana warna-warni itu?, begitu cepatkah pesta itu berlalu?”

Ya Tuhan, betapa semua telah raib tiada lagi jejak. Tiada biru, tiada merah, kuning, hijau, ungu,… semua hanyalah pesta semalam yang melintas dalam siluet kenangan.

Aku benar-benar telanjang, menggeliat, merangkak dalam suram. Mencoba mengingat tentang apa yang terjadi tadi malam.

Dentam irama telah di tabuh, denyut gairah kehidupan telah mereka pompa, gemerlap harapan terasa begitu menyilaukan. Ini benar-benar sebuah pesta, mereka menaburi malam dengan warna-warni penuh pesona, kami terbuai dalam irama dansa mereka.

Tetapi itu semua sudah tiada, kini aku terhuyung, terseok menabrak sosok-sosok bergelimpangan yang juga telanjang tanpa kehormatan. Mereka juga baru terbangun, mereka semua mendecit, menyadari dunia suram di sekeliling, menyadari dunia polos hampa tiada warna.

dunia_suram_pasca_pemilu

Suram dunia pasca pemilu.

Sekelumit nyeri menusuk kalbu, mereka telah pergi. Tuan-tuan pemilik warna-warni itu telah benar-benar pergi, meninggalkan kami dalam bimbang dan tanpa harapan.

Aku melangkah menyongsong arah pagi. Barangkali Tuan-Tuan itu akan muncul bersama matahari. Aku akan bertanya tentang seribu janji yang terucap dari mulut-mulut mereka yang berbusa. Apakah hanya sekedar bualan pemabuk di tengah hingar-bingar pesta.

Arrrggghh… tapi aku tak bisa berharap banyak. Bagaimanapun itu cuma pesta semalam, toast dan sulang demi mengusung para pemabuk itu keatas meja di tengah gelanggang.

Aku cuma budak pesta mereka, tiada apapun bahkan untuk sekedar menagih janji. Aku telah mereka campakkan, tanpa pakaian apalagi kehormatan. Suaraku kini tiada nilainya lagi. Hak-hakku telah mereka beli, aku telah terjual dalam sebuah pesta semalam.