Apa Yang Akan Kau Tunjukkan, Lakukan dan Berikan ‘sekarang’?

Kami adalah orang-orang kecil, tentunya juga berotak ‘kecil’. Pola fikir kami ‘kecil’, sudut pandang kami pada sebatas wilayah ‘kecil’, tentang ‘apa yang akan terjadi pada kami dan kampung kami esok?’

Ini di sadari betul oleh para calon legislatif (caleg) yang akhir-akhir ini mulai rajin ber’silaturahmi’, mengunjungi kampung kami. Mereka datang tidak membawa konsep canggih visi dan misi. Mereka tidak bicara soal kondisi aktual ‘sospolekbud’ negeri ini. Tidak bicara soal bobroknya birokrasi, soal korupsi, soal UU ini dan UU itu, soal-soal yang tentu tidak akan pernah kami fahami.


Mereka, para caleg itu, tahu betul bahwa yang kami ingin dengar dari mereka bukan lagi janji. Maka mereka sama sekali tidak kaget ketika Pak RT lantang berkata:
“Besok kami akan gotong royong memperbaiki jalan kampung. Bantuan dari bapak sangat kami harapkan!”

Dan si caleg tanpa ragu merogoh saku bajunya, “Ini adalah bantuan pribadi dari saya…”
Besoknya berkubik-kubik kerikil teronggok di ujung jalan. Kami gotong royong dengan hati yang riang.

Caleg yang lain datang, seperti biasa kami tidak mendengar pidato berisi jargon-jargon politik yang bikin kami bingung. Dia hanya mengajak kami duduk-duduk sambil ngobrol kecil di temani minuman dan makanan kecil. Dia tak ragu berkata bahwa dia adalah saudara, bagian tak terpisahkan dari kami semua. “oleh sebab itu tak ada salah bila saya sedikit berderma,” dan Ia pun membagi-bagikan dermanya kepada kami-kami yang hadir. Ah, tentu saja kami senang menerimanya.

Satu Caleg lagi, lebih berjiwa muda. Dia datang tidak bicara soal kampung, kekerabatan, uang, dan hal-hal kecil lain. Dia bicara soal yang bikin kami sedikit berpikir, soal pentingnya pendidikan bagi anak-anak kami. Akhir pidato dia membagi-bagikan kupon kursus gratis bagi anak-anak kami. Kami sadar betul bahwa nilai kupon ini amatlah besar.

Nah, siapa lagi Caleg yang akan datang ketempat kami? Apa yang akan kau tunjukkan, lakukan, dan berikan pada kami’sekarang’? Yak sekarang, bukan nanti, setelah kau terpilih nanti. Sebab seperti biasanya, setelah kau terpilih, kau tak akan pernah ingat pada kami, orang-orang yang memilih dan menempatkanmu pada kedudukan itu.

Money politic, rayuan maut, uang kontrak.

Banyak orang mengatakan bahwa yang mereka lakukan pada kami adalah semacam ‘kontrak politik’ secara tak tertulis, perjanjian mengikat. Tapi Pak RT cuma mengatakan “kita akan memilih siapa yang paling banyak memberi” dan kami semua mengangguk setuju.

Logika kami sederhana, siapa paling banyak memberi, dialah yang paling mencintai kami.

Banyak yang bilang ini adalah praktek money politik yang tidak sehat. Banyak yang bilang rayuan-rayuan para caleg ini adalah ciri bahwa mereka melakukan segala cara demi meraih kekuasaan. Tapi terus terang kami tak pernah berpikir sejauh itu.
Lagipula, mereka pantas melakukan ‘segala cara’ untuk sebuah kursi empuk yang kelak mereka duduki. Soal apa yang akan mereka lakukan jika sudah terpilih kelak, ingatkah mereka pada para konstituen yang memilih, ah itu sebuah cerita lama. Kami tahu mereka paling-paling sibuk pada gaji dan proyek-proyek pribadi.

Maka, mumpung kami masih cukup berharga bagi mereka, sekaranglah saatnya untuk meminta.

Nah, apakah pemikiran kami ini juga menjadi pemikiranmu? Apakah masyarakat lain juga memandang seperti kami memandang? Beginikah umumnya orang Indonesia? Apakah Indonesia sebuah negara kecil tempat orang-orang kecil berotak kecil dan berpandangan sebatas pada wilayah kecil?