Blog ini sepertinya dipenuhi postingan-postingan ngawur. Setelah Dunia Tanpa Kertas, Ebook Asongan, dan sekarang muncul pula PLN Wireless.

Semua ide konyol itu mendadak muncul di kepala diakibatkan satu hal, ‘kepepet’. Orang pintar mengatakan, ada dua kemungkinan pemikiran orang yang kepepet, berpikir kreatif atau sebaliknya, berpikir konyol. Kreativitas, atau KONYOLTIVITAS hehehe…

Ketiga postinganku ini jauh dari kreativitas, lebih cocok pada konyoltivitas. Di baca sekilas saja engkau akan langsung mahfum bahwa otak si bloger sedang sedikit oleng. Tapi, setidaknya aku masih menulis, menuliskan sesuatu yang orisinil, meski konyol yang penting bukan nyontek, flagiat apalagi Co-pas, hehehe…


PLN Wireless lahir malam tadi, ketika aku sedang asyik browsing dan blogwalking (ceilee…!) menggunakan Nokia kesayanganku. Tanpa di duga si kesayangan menjerit kehabisan batere. Aku kelimpungan melirik kiri kanan yang gelap. Pondokku memang cuma di terangi lampu tempel kecil, tak ada genset apalagi PLN. Aku merutuk dan menyumpah, kemana harus nge-charge? Sementara persediaan batere AAA sudah habis. Ngecas ke rumah tetangga? Yah, di sini lingkungan terisolir, tak ada listrik. Maka malampun berlalu penuh dendam. Kenapa di sini tak ada listrik? Kenapa PLN tak mau masuk? Kenapa kami tak mendapat fasilitas seperti orang-orang lain dapat? Kenapa?!!

Bukannya aku tak tahu, bahwa PLN adalah BUMN yang bokek, lebih sering buntung dari pada untung. Makin hari semakin tekor (sumber/referensi…lupa). Tapi itu bukan alasan bagi BUMN itu untuk meng‘anak-tiri’kan kami.

Aku jadi berpikir, internet bisa dengan mudah masuk ke pondokku, kenapa LISTRIK tidak? Indosat yang swasta bisa merasuk jauh bahkan sampai ke belantara, kenapa PLN yang milik negara tidak?
Mungkin justru karena SWASTA itulah para operator dan internet provider bisa menembus jauh ke pelosok-pelosok terisolir. Nah, kenapa di Indonesia tak ada Perusahaan Listrik Swasta? Kalau ada mungkin pondokku tak akan gelap gulita seperti ini.

Atau mungkin karena PLN mengandalkan ‘Kabel’, sedangkan internet sudah ‘wireless’. Nah, disinilah muncul pertanyaan, kenapa PLN tak mengembangkan teknologi listrik ‘wireless’? Hehehe, pertanyaan ngawur. Rasanya kita belum pernah mendengar kajian tentang ‘sumber tenaga listrik tanpa kabel’.

Kendala utama tersendatnya pemerataan infrastruktur listrik di pedalaman lebih dikarenakan (menurutku…) masalah kabel. Jarak yang jauh membuat biaya pemasangan infrastruktur- terutama kabel dan tiangnya, amat mahal. Maka untuk menyiasati ini PLN memberikan layanan secara kolektif, artinya PLN hanya mau membangun infrastrukturnya di daerah yang jumlah calon pelanggannya cukup banyak. Nah, kalau di tempatku? Aku cuma punya dua tetangga, berjauhan pula jaraknya….hik hik hik. Mana mau PLN mampir ke pondokku…

PLN wireless… mungkin itu satu-satunya solusi. Tapi kapan? Dan bagaimana? Sebab PLN wireless masih sebatas ‘wacana’ di sebuah postingan blog ADYASWARA, yang membuat otak sang bloger gonjang-ganjing karena tak sanggup memikirkannya.

Tapi… aku tetap saja berkhayal, Jika saja ada sumber tenaga listrik wireless, dan PLN kita menjadi PLN wireless…. kujamin Nokiaku tak akan pernah ngedrop dan aktivitas bloging pun akan lancar aman tentram bahagia selamanya…………………!!!@#

note: mesin diesel, genset, modul panel tenaga surya, dll sampai saat ini tidak cukup murah dan efisien.