Seorang kubu (suku asli di pedalaman Sumatera) mengendarai sepeda motor barunya. Anehnya dia hanya menggunakan gigi satu, apapun kondisi jalan, dia tak pernah mengoper gigi perseneling motornya. Seseorang menegurnya, “kenapa selalu pakai gigi satu? Di oper ke gigi dua, tiga, empat biar enak mengendarainya!”
Orang kubu itu menyahut, “gigi satu saja belum habis, kenapa harus pakai gigi dua?”

kubu
Suku Anak Dalam


Maaf, itu hanya anekdot saja. Aku bukan bermaksud menghina suku kubu, aku cuma ingin menggambarkan, begitulah persepsi masyarakat umum terhadap suku orang rimba ini. Penamaan ‘kubu’ itu sendiri diberikan kurang lebih sebagai hinaan. Kubu berarti ‘bau’. Alamaak….! Tega bener ya! Pemerintah yang berwenang memberikan nama resmi kepada mereka suku anak dalam, ini searah dengan kebijakan pemerintah untuk mulai menempatkan suku nomaden ini kedalam lingkungan sosial yang lebih berbudaya.

Di beberapa kabupaten dimana suku-suku ini banyak tersebar (Prov.Jambi), telah banyak di bangun pemukiman-pemukiman layak huni yang dikhususkan untuk mereka. Kajian dan studi-studi ilmiah juga terus di kembangkan demi memahami tata budaya mereka agar dapat terjalin interaksi positif antara masyarakat umum dengan suku asli ini. Berbagai kalangan mulai menyadari perlunya di bentuk LSM yang independen, untuk mengadvokasi hak-hak mereka.

Bagaimana keberhasilan program besar ini? Aku tak tahu, aku belum sempat mengadakan riset atau mencari referensi tentang masalah itu, dan postingan ini bukan untuk membahas masalah kehidupan sosial mereka, tapi semata untk melihat seperti apa orang dikampungku memandang orang rimba ini.

Mungkin artikel ini kurang objektif, sebab aku sendiri bukan asli orang Melayu. Aku hanya sekedar pendatang, menetap dan menikah dengan orang sini. Tetapi, katakanlah aku orang luar, dan justru orang luarlah yang sanggup menilai keadaan se-objektif mungkin, bukankah begitu?

Pandangan umum masyarakat terhadap orang rimba adalah ‘mereka bodoh dan gampang dibodohi’, semua orang dikampungku setuju. Benarkah kenyataannya begitu?

Ada satu kisah menarik dari seorang Tetua di kampung kami, dia mengaku memiliki benda ajaib yang langka di dunia. Dia menyebut benda itu sebagai air mani gajah, sebuah benda yang akan memberikan peruntungan kepada pemiliknya.

Dengan bangga dia mengulang-ulang kisah itu kepada siapa saja yang mau mendengarnya.
“Orang kubu, meski bodoh,”katanya, “tapi mereka cukup sakti, banyak jimatnya. Salah satunya yang paling terkenal adalah air mani gajah“. Suatu hari ada seorang kubu menawarkan benda ajaib itu pada sang Tetua kampung. Tentu saja dg harga yang amat mahal, sang Tetua mencoba membujuk orang rimba itu dg segala cara, sampai akhirnya si kubu menyerahkan sebotol ‘mani gajah’ itu dg harga beberapa rupiah saja. Maka resmilah sang Tetua sebagai pemilik benda ajaib itu. Tidak diceritakan bagaimana orang kubu mendapatkan jimat ajaib itu, apakah dengan mengintip sepasang gajah yang lagi indehoy, kemudian mencuri air maninya…? weleh…weleh… Tapi semua orang kampung mempercayai kisah itu, kecuali aku, tentu! Jika benar sang Tetua membeli ‘mani gajah’ itu dari kubu itu, maka siapa yang menurutmu lebih bodoh, kubu atau sang Tetua kampung?

Aku mencari-cari di google, air mani…gajah, tak ada satu pun situs yang sesuai…malah nyasar ke situs-situs bokep… Whahaha…