Waduk Darma

Berapa lama sudah sejak aku terakhir kali duduk di dinding beton tebal ini? Sepuluh atau lima belas tahun barangkali, tetapi bendungan ini tiada berubah, tenang dan damai. Airnya biru jernih beriak di tingkahi angin. Titik-titik kecil perahu nelayan bagai kerikil kelabu di tengah hamparan mutiara yang berkilau.

Sebelah kiri, tampak area objek wisata Waduk Darma, teduh dan asri. Pucuk-pucuk pinusnya melambai-lambai menawarkan keramahan, mengajak siapa saja untuk mampir.

Disebelah kanan, menjulang bukit tempat dimana gedung besar kantor pengairan berdiri anggun. Di kakinya terhampar area taman yang cukup menyegarkan pandangan. Ada tulisan besar di tebing kaki bukit itu, KUNINGAN ASRI. Di tebing bukit yg lain nampak pula tulisan timbul dari semen, WADUK DARMA.

Aku duduk tepat diatas dinding beton yang membendung waduk ini, beton sepanjang hampir dua ratus meter yang menjadi pilar bendungan ini juga berfungsi sebagai jembatan utama yang menghubungkan jalan raya Kuningan-Majalengka. Di belakangku terhampar lembah luas hingga menyentuh kaki gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, menjulang gagah dengan puncaknya yang bertingkat, mengepulkan asap.

Bendungan di hadapanku ini luasnya lebih dua ratus hektar, di kelilingi oleh desa-desa permai yang sederhana. Termasuk desa Darma, desa kelahiranku.

Mengapa sederhana? Desa-desa itu adalah pemilik sah telaga yang biru ini. Bendungan ini mengaliri bukan saja ribuan tapi ratusan ribu hektar sawah di daerah-daerah di bawahnya. Dan bendungan ini tak akan pernah ada jika penduduk desa-desa itu tidak sederhana.

Sekali lagi, mengapa sederhana? Karena kami rela melepas ratusan hektar sawah kami demi bendungan ini. Tidak ada satupun tuntutan kami, tak pernah ada demonstrasi, dan kami tak pernah meminta kompensasi. Semua karena kami rela, karena kami menerima hidup apa adanya.

Dulu kakekku pernah bercerita, “sawah kita terbentang luas di tengah-tengah lembah, tiap tahun lumbung rumah kita selalu penuh padi, jika panen raya tiba, seluruh desa merayakannya….”

“di mana sawah kita?” aku tak sabar bertanya.

“di tengah-tengah telaga tempat kau sekarang sering menebarkan jala…”

“Tapi mengapa?”

Kakek menggeleng, dan aku di paksa puas dengan gelengannya. Tiada apapun untuk menggantikan sawah kami, kecuali beberapa ekor ikan mujair kurus yang bahkan tidak setiap hari tersangkut di jala-jala kami.

Penduduk yang sederhana, Yeah…. Seperti kakekku. Tapi aku tidak, aku merasa begitu sempit, di himpit danau dan gunung. Tak ada sawah, tak ada tanah, tak ada harapan dan cita-cita. Aku mesti mencari tanah harapan baru, aku pergi.

Sekarang, aku kembali memandang Waduk Darma. Sungguh aku datang bukan untuk mengenang dongeng-dongeng romantis tentang sawah dan lumbung, bukan! Dongeng itu meski manis tapi membuatku getir. Aku kesini, semata untuk menyaksikan kembali keindahan Waduk Darma, danau dimana aku begitu sering menyelam ke kedalamannya. Aku kesini semata untuk merasakan belaian angin Ciremai, gunung dimana aku pernah terlelap di puncak tertingginya.

  • Ilustrasi: blog ummihalwa
  • Darma, Kuningan, Jawa Barat.