Latah nih, gara-gara banyak bloger ramai menulis soal pemilu, aku ikut-ikutan juga. Hehehe… *Selalu ingin tampil up to date!* wee, wajar kan, ya? Hal yang aktual selalu menarik minat orang. Kasus Ryan… ramai bicara Ryan, Ahmadiyah..-ahmadiyaaaah semua, muncul Ahmad Zaini, Ahmad Zainiiiiiii…semua, huahahaha!!!

Pemilu sebentar lagi,…*hoooii, semua orang sudah tahu!!!* dan rasanya hampir semua aktivitas orang-orang ‘gede‘, selalu di kaitkan dengan pemilu. Beberapa minggu terakhir harga bensin turun, kata orang itu demi pemilu. Pak Polan bersilaturahmi ke daerah anu, kata orang karena pemilu. Ibu Pulen menyumbang ke LSM dan yayasan anu, juga kata orang hanya karena menjelang pemilu.

Wah, puyeng aku! Di kampungku semua sudah bau pemilu. Pamflet, poster, baliho, billboard, spanduk, kaos, topi,… *celana dalam?\huss… Ngawur ae!*, gerobak tukang bakso keliling juga di gambari atribut pemilu… maksudnya, gambar caleg favoritnya.

Pak kades yang mendadak menggerakkan masyarakat untuk gotong royong memperbaiki jalan kampung juga di sebut-sebut membawa misi pemilu. Dalam pidato pembukaannya ia jelas-jelas ngomong soal pemilu.

“Kita masih di landa krisis, harga karet belum kunjung membaik, dan kini kita harus menghadapi pemilu…”

Bussseeet, aku terperangah kaget. Hingar bingar pemilu telah membuatku melupakan soal itu. Disini 99 prosen lebih penduduknya adalah penyadap karet. Harga karet yang anjlok menjadi seperempat harga biasanya, karuan membuat kami semua jatuh miskin seketika. Krisis global yang melanda dunia menjadi biang keroknya.

Yak, krisis global, temanku seorang penyadap buta hurufpun tahu ini semua gara-gara krisis global. Pasaran dunia lesu, permintaan komoditas pertanian menurun, hargapun ikut meluncur turun.

Tapi semua orang kampung tak peduli, krisis global, krisis globel, krisis glembul dan glembol, yang penting harga karet turun…dan siapa yang harus bertanggung jawab? Tentu saja mereka yang ada di atas sana. Masa melawan si glombel aja gak bisa….? Apa kerjamu disana? Makan duit pajak karet, ya? Lho… Kami kan bayar pajaknya kok kamu biarkan saja itu si glombel merajajela? Nggak becus kamu ya, ngurus itu si glembul? Kalo nggak becus mbok ya turun aja, gitu aja koq repot…

“Teman-teman,” Pak Kades melanjutkan pidatonya, “menjelang pemilu, kita mesti ekstra hati-hati. Jangan sampai terpancing oleh hasutan negatif pihak tertentu…” bla bla bla, aku masih sibuk mikir soal si glombel itu.

“…memanfaatkan isu krisis global untuk tujuan politik mereka…” nah lo, Pak Kades nyebut si glombel lagi. “…menuduh pemerintah tak mampu mengendalikan keadaan. Ini agitasi! Krisis global adalah fenomena dunia, semua negara menderita, bukan kita saja….” bla bla bla…

“jadi maksudnya apa, Pak Kades? To the point azza, dunk! I’m so boring, neh!” seorang kakek tua interupsi.

“Maksudnya??? Nggak ada maksud apa-apa kok, cuma mau bilang…selain krisis global, menjelang pemilu ini kita juga punya musuh lain, krisis ‘gombal‘ namanya…” weekekeke… Pak Kades bisa aja, aku tersenyum pada diriku sendiri.

TamanDewa, Mandiangin, 15 februari 2009

*narasi dan pidato pak kades di poles dikit…*