Mengapa perang tarif seluler hanya melulu pada tarif sms dan percakapan? Pertanyaan ini jarang terdengar, tapi aku yakin kamu semua pasti memiliki pertanyaan yang sama, mengapa tak ada perang tarif gprs?

Apakah operator seluler menganggap mayoritas pelanggan seluler di Indonesia adalah tukang ngegombal, tukang ngobrol ngalor ngidul, tukang kibul, tukang sebar gosip, tukang bisik-bisik isu sensitif, tukang…. dan hanya beberapa gelintir saja diantaranya yang memang benar-benar butuh gprs? Jawabannya mungkin ya mungkin tidak. Tapi dari sepak terjang mereka di iklan-iklan media masa, kita bisa mengambil kesimpulannya.

Satu operator besar menganggap para pelanggannya memang benar-benar bodoh, atau bahkan idiot, atau bahkan lebih buruk. Terbukti mereka telah dg sadar menjadikan monyet sebagai ikon. Busyet…. kita dianggapnya sebodoh monyet! Apa kau tak tersinggung? Aku marah berat, aku memang bodoh, aku memang gaptek, tapi aku tak mau di personifikasikan dg monyet! Operator ini mungkin memang untuk monyet, sebab ternyata tarif gprs nya Rp 10, per kb, siapa mau gprsan dengan tarif segini kecuali monyet!

Operator satu lagi menganggap para pelanggannya- terutama pengakses gprs, adalah para hansip tukang ronda, atau satpam tukang jaga malam. Lho…. ? Tarif gprs nya memang sepersepuluh lebih murah dari operator monyet, tapi kualitas layanannya amburadul, tidak profesional. Sinyal gprs hanya mantap pada dinihari buta. Siapa mau ngenet dinihari buta? … tukang ronda. Bahkan di daerahku sinyal gprs nya hanya muncul tiga jam sehari, jam tiga sampai jam enam pagi. Lagi-lagi kita-para pelanggan yth, telah dihina! Dianggap tukang ronda…

Satu operator lagi, tidak lebih baik, menganggap kita-kita tak lebih dari kerbau dungu, cuma manut kata orang saja, cuma ikut-ikutan saja, cuma nyontoh kakek nenek papa mama saja, cuma bangga dengan keluarga besar saja. Kita-kita yang biasa komplain, mereka anggap sekedar para pengoceh, pembual, tak pernah puas, tak mau bersyukur. Operator ini sibuk pasang penyumbat kuping, aku tak peduli! katanya, dan mereka jalan terus. Mereka pikir kita tak punya pilihan yang lain lagi. Apakah selamanya operator seluler akan menghina kita? Dimanakah pilosofi ‘pelanggan adl raja?’