Aku tak yakin dimana pertama kali mendengar istilah itu, ‘dunia tanpa kertas’. Di internet barangkali, entahlah ! Mungkin hanya slogan saja, atau bahkan sebuah gagasan yang-mungkin saja, kini telah mengemuka di kalangan pakar. Aku tak tahu! Tapi istilah itu, jika benar sebuah gagasan atau cita-cita, membuat harapanku mencuat, dunia tanpa kertas…
Sungguh menyenangkan, tak ada lagi buku, tak ada lagi sampah kertas menggunung, tak ada lagi akasia, tak ada lagi traktor, tak ada lagi pabrik, semua akan digilas kekuasaan zaman digital.
Coba kau bayangkan, berapa juta ton kertas dibutuhkan dunia setiap hari, dan berapa juta ton yang akhirnya menjadi sampah sia-sia. ‘Apa peduliku?’ yak, barangkali kau tak peduli, tapi jika kau menjadi aku sekarang, aku yakin kau pasti akan sangat peduli!

Aku dibesarkan di sebuah desa yang kaya, tanah ladang menghampar luas, hutan lebat dipenuhi beraneka flora dan fauna. Dan kini, ketika aku memandang berkeliling, semua itu telah sirna, berganti ribuan kapling akasia, ribuan hektar pohon yang bukan kami tuannya, pohon yang kami tak tahu apa gunanya. Traktor menderu setiap hari, trailer berat pengangkut kayu hilir mudik, cerobong pabrik kertas mengepulkan asap tanpa jeda, kami cuma bisa menyaksikannya. Mereka telah merampas hutan kami, menjadikannya mesin uang lewat benda bernama kertas. Dan mereka telah merampas hak-hak kami, kayu-kayu, binatang buruan, buah-buahan, tempat perlindungan, semua telah dimusnahkan. Apa yang mereka berikan pada kami? Kompensasi? Yak, beberapa orang centeng desa diangkat menjadi satpam di perusahaan mereka, beberapa taoke kaya diberi hak untuk mengurus satu dua kapling akasia, beberapa anak muda diberi pekerjaan pada mesin-mesin mereka. Dan…. cukupkah itu untk mengganti semua kehilangan kami?

Dunia tanpa kertas….sungguh wacana yang melambungkan imajinasiku, menggetarkan asaku, cita-cita desaku.

Senyerang, Kuala Tungkal, Jambi.