Mulyana's Palace

Just In My Sok Tahu Opinion, hwaddoh…!! :)

Memahami Per”beza”an Kita

Cukup rumit untuk memetakan konsep hubungan kita dengan negeri tetangga, Malaysia. Jiran terdekat ini memang memiliki hubungan emosional dan sejarah yang tak terpisahkan dari kita. Rumpun Melayu, yang meliputi semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, sebagian Jawa dan Sulawesi, tak pelak merupakan fakta yang tak bisa dibantah, bahwa antara kita dan mereka bersaudara.

Tetapi semua faham, hubungan sejarah yang lekat dan manis itu tak semanis realita kini. Boleh dikata, saat ini hubungan Indonesia Malaysia berada dalam situasi yang buruk, bahkan mungkin yang terburuk semenjak gesekan-gesekan konflik dimulai zaman revolusi dahulu.

Memang kita belum mendengar ada pejabat negara yang mengeluarkan statemen “keras” seputar konflik dengan Malaysia. Namun gejolak luar biasa dikalangan masyarakat umum begitu terasa. Memang kita belum mendengar jargon “ganyang Malaysia” kembali bergaung dikalangan petinggi istana atau politisi Senayan. Tapi kita sadar emosi ini sudah sedemikian kuat. Bahkan riak-riak kecil semacam kasus Manohara yang tak ubahnya “opera sabun”, ditanggapi secara ekstrem sebagai penghinaan nasional.

Emosi kita memang sudah sampai ke ubun-ubun, itu bisa dimengerti. Akumulasi kejengkelan akibat klaim-klaim sepihak dan arogansi Malaysia telah terlalu sulit untuk ditolerir. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, ada perbedaan mendasar yang membuat kita dan mereka selalu terjebak dalam cekcok.

Saya pernah membaca sebuah berita, tentang seorang pejabat Malaysia yang mengeluarkan kritik berani soal kebebasan pers di Indonesia. Menurutnya, media Indonesi terlalu bersemangat dengan kebebasan yang “diberikan” semenjak jatuhnya orde baru. Kritik ini berkaitan dengan pemberitaan media-media Indonesia seputar tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Disini jelas kita melihat bahwa pejabat itu tidak memahami betul perjalanan sejarah kita. Kebebasan pers, yang adalah tonggak utama hak-hak asasi manusia, yang dapat kita nikmati kini, bukanlah sebuah “pemberian”.

Kebebasan kita bukanlah sebuah anugrah, kebebasan kita ditebus dengan darah dan air mata, perjuangan tak terhingga, mengorbankan ribuan nyawa. Sejak revolusi meletus bangsa kita senantiasa bergulat akan arti kebebasan hakiki. Kita berhasil merebut kemerdekaan dengan semangat dan amarah yang meluap. Kita mendobrak kebobrokan ORLA, menghancurkan tirani ORBA juga dengan perjuangan panjang aksi-aksi massa yang mengguncangkan seluruh negeri, mengorbankan banyak nyawa generasi pemberani. Tak ada yang gratis atas pengakuan hak-hak asasi manusia di negeri ini.

Inilah perbedan kita dan Malaysia.

Malaysia memang punya ekonomi lebih maju ketimbang Indonesia, tak banyak korupsi dan masyarakatnya relatif damai, tak ada terorisme. Tapi ada satu hal yang tak dimiliki bangsa itu, revolusi. Revolusi untuk merebut kemerdekaan, kebebasan dan pengakuan hak asasi.

Hingga kini Malaysia tak pernah merasakan perjuangan dengan pengorbanan yang radikal. Sebab itu mereka dengan mudah membungkam pers, menjatuhkan lawan-lawan politik. Maka, dari latar belakang seperti inilah, Malaysia kerap membikin tensi emosi tetangganya menggelora. Persepektif yang berbeda ini tentu menimbulkan kesalah-fahaman. Inilah salah satu hal yang patut menjadi bahan renungan, bila kita memang masih merasa bersaudara.

disarikan dari TEMPO, 13 January 2008 dengan penambahan redaksional maupun opini

July 11, 2009 - Posted by Mulyana | Duniaku Duniamu | , , , , | 21 Comments

21 Comments »

  1. waduh…jangan ada berantem-beranteman deh. damai…damai!

    tapi ngomong-ngomong kuala lumpur yang sebenarnya…justru ada di indonesia lho. di sidoarjo tepatnya (kok malah bangga….dan belum beres-beres kasusnya sampai sekarang)

    kok malah yang jelek yang kita punya ya…nggak tahu deh. kita urus masalah masing-masing aja deh ya malaysia.

    Comment by geRrilyawan | July 11, 2009 | Reply

  2. pasti malysia punya hidden agenda. sehinga malysia perlu memprovop indonesia agar bisa mengetahui sikap indonesia semacam test case lah. dan ternyata indonesia seperti itu. jadi pemerintah indonesia memang harus tegas. dan kita pun sudah tegas utk itu.

    Comment by kawanlama95 | July 11, 2009 | Reply

  3. kalo menurutku tak hanya Malaysia yg memandang hina negri ini. Australia begitu gencar ketika rakyat-a banyak jd korban Bali tuk sgra mengadili para teroriris, tapi ketika warga Australi tertangkap di Bali karna mengedarkan narkoba, dan pengadilan negri Denpasar memutuskan terdakwa di hukum mati, pemerintah Australi meminta agar memulangkan saja rakyat-a. Begitu juga dng Singapura, kasus pasir yang ilegal itu, sampai sekarang juga cenderung dilupakan. Maka apakah sesungguh-a yg menjadikan negri2 tetangga Indonesia itu tidak bisa menghormati Indonesia yg berdaulat dan negara yg punya hukum? jawaban adalah ditangan para pemimpin negri ini, agar negri2 jiran itu benar2 menghargai atas kedaulatan negri yg kita cinta ini.

    Comment by ammar | July 11, 2009 | Reply

  4. BANGKITLAH NEGERIKU.. KEMBALILAH PADA JATI DIRI MANUSIA SEUTUHNYA.. MANA HATI NURANIMU
    SALAM SAYANG

    Comment by KangBoed | July 11, 2009 | Reply

  5. yah pak…
    tapi kok ‘nasionalisme’ nya kita itu kayaknya jadi agak salah kaprah ya…
    kita tu kayaknya kl udah masalah tawur atau perang2 langsung dah semangat banget. aneh…
    trus juga… masalah TKI kita di malay yng banyak disiksa, sedikit yang peduli. tapi soal mano(huru)hara yang seorang itu, simpati terus saja mengalir… nasionalisme memandang wajah cantik kah?

    Comment by yoan | July 12, 2009 | Reply

  6. Entah, sesama muslim kok terjadi perselisihan..
    apa malaysia ngiri dengan kita?

    Comment by AzzaaM | July 12, 2009 | Reply

  7. Kalo akush belum tau perbedaan politik malaysia dgn indonesia,soalnya aku bukan pengamat,jadi lum tau,bru tau dikit setelah baca artikel di atas,

    Comment by Mr.o2n | July 12, 2009 | Reply

  8. kalo aku sih yang penting tetep ngeblog :)

    Comment by Bisnis Online | July 13, 2009 | Reply

  9. berbeda adalah indah..

    Selama perbedaan itu tidaklah merugikan orang lain..hehee..

    Salam Kenal..

    Salam Anak Bangsa..

    Comment by celotehanakbangsa | July 13, 2009 | Reply

  10. Lain dengan malaysia, kemerdekaanya aja “hadiah”, terang aja mereka gak ngerti kita.

    Comment by Rayya | July 13, 2009 | Reply

  11. please blue senang dan cinta banget damai ok
    salam hangat selalu

    pa cabar?

    hare gene…kagak damai….yuk!

    Comment by bluethunderheart | July 14, 2009 | Reply

  12. Perjuangan itu bukan sekadar perang atau revolusi. Malaysia juga berjuang dalam memperoleh hak merdeka, dengan caranya sendiri. Yaitu dengan diplomasi dan negosiasi.

    Kami bukan bangsa barbar yang lebih mendahulukan perang dan kekerasan. Kami bangsa beradab, yang suka damai.

    Kenapa pula mempermasalahkan hal ini, karena kita merdeka dengan caranya masing2.

    Comment by Kuching-laksa | July 15, 2009 | Reply

  13. Konflik dewasa ini, I think…lebih karena belum dewasanya cara berpikir masyarakat kita. So, mari kita berpikir dewasa, berpikir global, universal…

    Comment by Kuching-laksa | July 15, 2009 | Reply

  14. >kuching-laksa: justru karena perbedaan sejarah dan latar belakang itulah, terjadi missunderstanding pada kedua negara. Malaysia cenderung tidak menghargai arti perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, maka mudah saja mereka asal klaim tanpa peduli tetangga.

    Comment by Mulyana | July 15, 2009 | Reply

  15. Kalau aku di suruh pilh, biarlah Sumatera ini masuk Malaysia, dari pada di jajah jawa.

    Comment by Samsul bahri | July 15, 2009 | Reply

  16. Malaysia itu oke
    jawa itu boke

    Comment by Samsul bahri | July 15, 2009 | Reply

  17. I hate wong jowo. Sumatera is not yours! Sumatera is MALAY land!

    Comment by Samsul bahri | July 15, 2009 | Reply

  18. >Samsul Bahri:
    Saya menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, makanya komentar anda yang sangat rasis, menyerang suku tertentu, tetap tidak saya banned.

    Yang jelas komentar2 seperti ini justru merugikan anda sendiri, orang akan tahu nilai dan kepribadian anda. Tidak akan ada orang yang merasa simpati atas komentar rasis seperti itu.

    Comment by Mulyana | July 15, 2009 | Reply

  19. Apapun yg terjadi saya bangga sebagai orang Indonesia..

    Comment by Alvin | July 15, 2009 | Reply

  20. harusnya cari persamaan donk.. jgn perbedaan..
    lucu baca komentarnya @Samsul bahri
    hahahaha…

    Comment by yorick | July 16, 2009 | Reply

  21. Menurut saya justru harus dicari kedua-duanya, persamaan dan perbedaan. Persamaannya saya bahas di paragraf awal, kemudian saya bahas perbedaan.

    Dengan memahami perbedaan dan persamaan, kita akan bisa lebih saling menghargai, saling menghormati. Kita menerima apa adanya. Kita tahu kelebihan dan kekurangan masing2.

    Just in my sok tahu opinion, hehehe!

    Comment by Mulyana | July 16, 2009 | Reply


Leave a comment