Terluka Karena Mega
Megawati itu pemimpinnya wong cilik!, saya setuju itu. Terbukti, PDIP-kendaraan politiknya, dikenal sebagai partai yang berbasis masa rakyat jelata. Bukti lagi, 99,9% tetangga saya (para buruh penyadap karet), menjagokan dia buat jadi presiden periode mendatang.
Tapi, saya terhenyak kaget ketika membaca sebuah berita di majalah lama. Itu berita lama, bertahun-tahun yang lalu, tetapi teramat sangat menohok hati, melukai jiwa dan menghancurkan hormat dan simpati saya pada wanita yang mengaku mewarisi cita-cita, semangat juang dan patriotisme Bung Karno itu.
Megawati, saat menjadi presiden menggantikan Gus Dur, telah merilis INPRES (Instruksi Presiden) nomor 8 tahun 2002. Intinya, mengampuni para obligator BLBI yang notabene adalah para tikus rakus yang menggerogoti ratusan triliun duit negara. Dengan INPRES itu, para bankir dan konglomerat yang dianggap kooperatif, dicap LUNAS dan dibebaskan dari segala tanggung jawab.
Akibatnya Anthony Salim-bos BCA, cuma bayar 19 triliun dari utangnya yang tak tanggung-tanggung, 53 triliun! Syamsul Nursalim hanya setor 4,9 triliun dari total duit yang dia kemplang sebesar 28 triliun. Dan mereka melenggang bebas berbekal CAP lunas dari INPRES Megawati Itu, tanpa peduli triliun-triliun lain yang mestinya masih jadi tanggung jawab mereka. Ini jelas salah besar, ini jelas tak bisa diterima, ini tentu melukai hati dan harga diri kami.
Kami rakyat biasa, meski jelata tapi adalah juga korban krisis moneter tahun 1997 itu. Seperti para bankir itu, seperti konglomerat-konglomerat itu, seperti Ongko dan Bob Hasan, seperti Fadel Muhammad dan Marimutu Sinivasan, seperti David Wijaya dan Samadikun, seperti bos-bos lain penikmat BLBI, kami juga terjungkal diterjang badai ekonomi itu. Perusahaan kecil kami ambruk, perdagangan kami bangkrut akibat gejolak harga yang tak terkendali pada masa itu.
Ayah saya, seorang pedagang barang pecah belah mapan yang punya banyak anak buah, ketika krismon menerjang, ayah saya limbung dan tak sanggup menahan fluktuasi harga. Bunga bank membumbung setinggi langit. Usaha beliau gulung tikar meninggalkan jutaan hutang yang mesti dibayar dicicil bertahun-tahun.
Hingga kini, derita akibat krisis moneter itu belum sirna juga. Ayah saya meninggal dalam perjuangannya melunasi hutang-hutangnya, dengan bekerja sebagai buruh penyadap karet di pedalaman Jambi ini, perkerjaan yang menurut sebagian orang adalah perkerjaan hina.
Tapi kami begitu bangga padanya, beliau akhirnya mampu melunasi semua hutangnya, walaupun harus tabah memahat inci demi inci kulit karet yang keras menghentak otot perut, menanti tetes demi tetes lateks yang mengalir sendat keatas batok, memeras keringat yang entah mengalir berapa juta butir tiap hari, hutang kami akhirnya terlunasi juga.
Adakah simpati para petinggi negeri ini buat orang seperti kami?
Ceritanya tentu saja berbeda ketika krisis moneter itu menghantam bos-bos besar pemilik bank. Bantuan pemerintah ratusan triliun menggelontor begitu saja dari kas negara. BLBI mengucur, duit rakyat mengalir, mengisi pundi-pundi para tikus rakus yang sempat kolaps akibat defisit duit.
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sejatinya dianggarkan untuk merestrukturisasi bank-bank yang mengalami rush akibat krismon, demi stabilitas ekonomi nasional. Alih-alih digunakan untuk memperbaiki keadaan, BLBI itu malah disalahgunakan untuk kepentingan kelompok mereka sendiri. Akhirnya duit ludes, utang pun macet.
Total dana yang diguyurkan Bank Indonesia itu sangat mengerikan, 144,5 triliun! Cukup untuk memberi makan 60 juta rakyat miskin se-Indonesia selama setahun!!!
Yang amat menyakitkan lagi, 90 persen dana itu ternyata mereka selewengkan dan gagal mereka kembalikan.
Ketika tiba waktunya bayar, mayoritas mereka mangkir. Ada yang menipu negara dengan menyerahkan aset-aset busuk yang hampir tak laku dijual, ada yang ngacir keluar negri sembari membawa bergepok-gepok duit, ada juga yang asyik-asyik saja tiarap ditempat sambil coba lobi sana lobi sini, mencoba menarik ulur, berlindung dibalik koneksi dan intrik.
Lobi, intrik dan negosiasi mereka berhasil, terbukti, seorang presiden kharismatik panutan wong cilik yang populer, mengeluarkan INPRES yang teramat sangat menguntungkan mereka. Anthony Salim pun bebas melenggang kangkung.
Inikah pemimpin wong cilik itu? Cuma itu yang dia mampu? Ah saya sungguh kecewa. Kagum dan hormat saya pada Bu Mega musnah sudah berganti muak dan sakit dari hati saya yang terluka.









kayanya saya PERTAMAX yah gan…?
saya sih ngga milih megati juragan…
Uh, adikmu yg tak mudah menitikkan airmata ini, benar2 menitikkan air mata.
Tapi, yg lalu biarlah berlalu, begitu kan?
Biarpun nantinya aku tdk memilh bu meg,tapi ada baiknya melupakan keburukan di masa lalu,krn saya yakin tiap manusia masing2 punya ke burukan,yg lalu biar berlalu mari menatap hari esok salam,
oy,saling taut yuk
Maaf, saya kurang
sependapat. Masa lalu alias track record seorang capres mutlak dan wajib dipertimbangkan. Ini akan jadi acuan, seperti apa nantinya kompetensinya jika dia sudah menjabat.
To mr.o2on, linknya sdh sy pasang, makasih.
Megawati itu sebenarnya tak bisa apa-apa. Modal dia cuma karena dia puteri seorang proklamator kharismatik, tak lebih!
Dapat gelar doktor gara-gara shukoi, sama saja dengan bohonng. Coba ajak dia debat, bisanya cuma mesem-mesem doang, gak lucu!
Mega atau bukan, jaga kesehatanmu, jangan banyak mikir yang idak-idak,
Jangan ikut campur urusan lelaki, ah! Hahaha…
oh.. nggak boleh ikut campur ‘urusanlelaki’ ya?
humm… baiklah…
tapi saya ga tahan mau komen…
mega itu MEMANG pemimpinnya wong ‘cilik’…
karena MEMANG cuma wong ‘cilik’ yang bisa ditipu, dijejali janji dan ‘kharisma’ bapaknya si ibu yang konon katanya menurun ke anak-anaknya…
ah… ternyata benar kata pak mulyana…
saya sebaiknya tidak ikut campur urusan ini karena saya MEMANG cuma bisa ngomong nggak jelas macam ni…
Mega akan buat hubungan Malay-RI bak zaman ayahnya dulu. Tak ada baiknya, dia.
Mas mau nanya nh itu mengenai kmentarnya di blog mas udien tu caranya gmana ya ko,aku kaga nemu.
aku hanya pengamat dan tak mau terjebak siapa yang akupilih. selamat pagi
Inilah potret bangsa kita… Apa2 bisa direkayasa… Kita sering tak peduli dgn pengalaman yg sudah2… Salam kenal sobat… Salam hangat dan damai selalu…
@mr.o2on: di sudut kanan atas kan ada opsi layar, klik aja. Hp saya 6300 bisa kok…aman2 aja edit widget…tapi mungkin gak semua hp ya? Mas udien jg gak bisa katanya!
@kawanlama95: met siang, hehe
@Hary4n4: salam kembali!
Saya lebih ke JK-Wiranto aja deh…
Asal jangan Mega, hehe
Hidup SBY!
Tidak fair menilai Megawati hanya berdasarkan inpres yg pernah di tanda-tanganinya, beliau menjabat saat kasus BLBI itu benar2 buntu. Solusi yg ditawarkan inpres itu mungkin jalan terbaik saat itu.
Jika bicara latar belakang, apakah calon2 lain seperti SBY dan JK mempunyai trek rekor cemerlang? Keduanya adalah pejabat produk ORBA. besar dan menikmati benar masa keemasan Soeharta.
Prestasi apa yang pernah diraih kedua orang ini selama mereka jadi Pres dan Wapres?
Megawati adalah pejuang sejati, melawan rezim tiran secara konsisten, mendorong demokrasi tetap eksis di negeri ini.
Katakan, dimana letak kebodohan Megawati? Dia memang bukan doktor, dia bisanya cuma mesem, tapi apakah anda mengukur kompetensi seseorang hanya dari gelar atau dari kepiawaian debat?
Jika Megawati tidak menandatangi inpres tsb, ada kemungkinan kasus BLBI bisa mudah diselesaikan di kemudian hari.
Megawati jelas tak memikirkan rakyat, saat itu. Dia lebih mementingkan kepentingan konglomerat. Saya tak menyebut SBY atau JK lebih baik, tapi yang jelas Megawati telah mengecewakan orang seperti saya.
Mantap juragan!keep writing!
Meski saya bukan pengagum Megawati
Tapi saya tetap menghormatinya sebagai Tokoh Bangsa
Dan andai pun benar beliau memiliki kesalahan di masa lalu
Semoga kita bisa memaafkannya