Khilafah Di Ujung Zaman
“Kalau begini terus keadaanya, rasanya aku ingin kembali saja ke zaman Sayyidina Umar!”, kata seorang tetangga suatu hari, Wak Karim namanya. Saya heran dan bertanya sebabnya, “lha, kau ingat kisah khalifah Umar, bukan? Beliau secara rutin menyamar berkeliling kota setiap malam, hanya untuk mengetahui apakah ada rakyatnya yang kelaparan.”
Ah, saya tersenyum mendengar penuturan lugu orang tua itu. Entah senyuman lucu, atau getir, yang jelas saya sekarang tahu mengapa “statemen berani” seperti itu muncul dari pemikiran seorang petani kampung. Kehidupan semakin berat bagi para petani karet, akibat harga karet yang tak kunjung membaik. Sementara harga sembako terus meroket. BLT dan beras bersubsidi tak pernah mampir ke kampung kami, padahal hampir semua KK di RT kami layak menerima bantuan “recehan” dan beras berulat itu. Kami termarginalkan. Kami tak dihiraukan. Maka, tak salah jika Wak Karim lantas merindukan sejarah manis zaman khalifah Umar.
Dulu saya pernah belajar sedikit sejarah, pernyataan “kembali ke masa Khalifah” yang meluncur polos dari mulut seorang petani itu, justru adalah sebuah wacana “besar” yang telah menjadi polemik sepanjang sejarah. Itu adalah isu panas melingkupi ranah paling sensitif perpolitikan Islam. Baik di Indonesia maupun dunia internasional.

AL Azhar; 30.000 orang menyaksikan perdebatan akbar tentang khilafah th 1992 di Cairo
Bulan Januari 1992 di Cario, 30.000 orang telah menyaksikan perdebatan paling akbar tentang kemungkinan “penerapan syariat Islam” dan lembaga “khilafah” di Mesir. Pro dan kontra dalam perdebatan itu terus berlanjut hingga salah seorang narasumbernya terbunuh lima bulan kemudian.
Farag Fouda, sang narasumber di bunuh oleh kelompok yang mengaku berseberangan pemikiran.
Di Indonesia, perdebatan mengenai syariat Islam mulai terjadi bahkan ketika negara ini masih berupa embrio. Para Founding Fathers negeri ini beradu pendapat secara sengit tatkala sebagian dari mereka ingin agar Syariat Islam disematkan dalam sila pertama Pancasila.
Walau akhirnya para politisi perintis itu sepakat untuk menghilangkan Syariat Islam dari teks Pancasila, bukan berarti perdebatan dan keinginan untuk mengusung ide “khilafah” berhenti sampai disitu. Wacana itu terus menggelinding bak bola salju menuruni lereng bukit, makin besar dan terus membesar. Apalagi ketika ide keterbukaan dan kebebasan berpendapat mulai memperoleh tempat terhormat, keinginan sebagian kelompok Islam itu semakin senter terdengar.
Berbagai kajian ilmiah, buku, majalah, tabloid dan koran-koran selalu ramai peminat ketika isu sensitif ini diangkat. Silakan buka situs POLITIKANA, forum maya pemerhati dan kritikus politik, smua postingan yang mengupas tema “Syariat Islam” dan atau “khilafah”, selalu sesak komentar pro dan kontra.
In my “sok tau” opinion, akar dari mengemukanya wacana “khilafah” adalah semakin memudarnya kredibilitas sistem demokrasi ala barat. Sistem yang dianggap paling ideal untuk masyarakat modern itu ternyata tdk mampu menjawab persoalan fundamental; kestabilan global dan moralitas masyarakat modern. HAM, kesetaraan gender, kebebasan absolut, dan produk-produk lain demokrasi, tdak membuat kondisi masyarakat sekarang menjadi semakin baik. Kemajuan di segala bidang; ekonomi, teknologi, status sosial, kesehatan, dll harus di bayar oleh kehancuran di lebih banyak bidang; kriminalitas merajalela, kemiskinan, peperangan, munculnya beragam fenomena “masyarakat sakit”, dan lain sebagainya. Hukum di buat tidak lebih dari flagiat mutlak “HUKUM RIMBA”, siapa kuat dia dapat, siapa punya duit dia punya hak.
Apa arti demokrasi kalau ujung-ujungnya mantul oleh hak istimewa “veto”, dan siapa punya veto kalau bukan mereka yang punya kuasa. Ketika bertemu veto demokrasi tak lebih dari “tahi”, hina!
Bagaimana dengan sistem “khilafah”? Sistem yang semua sendinya berdasarkan Syariat Islam? Farag Fouda-kritikus Mesir yang terbunuh akibat pandangan negatifnya terhadap “khilafah”, berpendapat bahwa zaman kekhalifahan sebenarnya bukanlah zaman keemasan, melainkan zaman biasa, bahkan banyak jejak-jejak “memalukan”.
Ketika khalifah Utsman ditengarai menyelewengkan keuangan negara, banyak kalangan menginginkan beliau meletakkan jabatan. Apa daya para pemikir Islam zaman itu tidak menemukan dasar hukum dan dalil tepat untuk melengserkan Utsman, tak ada dalil suksesi, maka tak ada jalan lain selain membunuhnya, dan menistanya. Di temukan ribuan keping dirham emas dalam brankas pribadi khalifah Utsman.
Selain Utsman, khalifah Ali juga terbunuh akibat konflik politik yang meruncing. Dalam periode dinasti-dinasti kekhalifahan selanjutnya, pembunuhan dan penyingkiran lawan politik adalah hal yang biasa. Farag Fouda mem andang, tak ada dalil-dalil legal dalam syariah yang mengatur hal-hal pelik semacam “suksesi politik” dan lain-lain.
Juga just in my sok tau opinion, ketika mewacanakan “khilafah”, perlu dicari model ideal agar kajian dan studi-studi ilmiah mendapat banyak perbandingan dan referensi. Menjadikan zaman Rasulullah sebagai model? Jelas tidak akan klop karena kondisi sosial masyarakat sekarang sudah sedemikian kompleks. Zaman khulafaurasyidin? Seperti kata Farag Fouda tadi, begitu banyak kekurangan dan kekosongan hukum yang tak akan terisikan oleh dalil-dalil syariah.
Atau menjadikan Arab Saudi dewasa ini sebagai model, turut asyik menjadi “boneka” paman Amerika? Atau Iran, dimana Sang Imam begitu mudah menghalalkan darah seseorang (kemudian kepalanya dihargai dengan uang) hanya karena perbedaan pandangan?
“Uh, kok masalahnya jadi serumit itu ya?” sungut Wak Karim ketika saya selesai menguraikan sedikit hal tentang khilafah. “kalau begitu, semuanya kembali ke pribadi masing-masing ya, mau khilafah mau demokrasi mau komunis, kalau dasarnya bejat ya tetap saja korup!” Nah lho, Wak Karim yang watak dasarnya kritis, tetap mampu berpikir kritis meski tiap harinya lebih banyak konsumsi singkong ketimbang nasi, yang kini harga berasnya membuat kami semakin murung.









wew.
wew…
malangnya saya yang baru tahu sejarah di balik pembunuhan khalifah utsman…
padahal dari smp saya udah mantengin buku sejarah peradaban islam…
saya nggak terlalu ngerti soal khilafah-mengkhilafah ini pak…
yang saya tau, kalau pemimpinnya jujur dan sistemnya bersih, rakyat gak mungkin terus2an sengsara…
tapi kapan ada pemimpin seperti itu dan sistem sebersih dan seperti apa yang bisa mengakomodir semua kepentingan…
saya nggak tau jawabannya…
sumpah…
waw banget dech blue baru tahu sejarahnya
salam hangat dalam dimensinya blue
Pa cabar?
Setuju khilafah atau menolak, kok gak jelas?
Kalau aku sih setuju ama wak karim, lebih baik introspeksi diri, perbaiki diri sendiri, baru berpikir sistem.
@Tung: saya tidak lagi bicara soal mendukung atau menolak, saya sedang membicarakan bahwa fenomena ini bahkan sudah menjadi pemikiran petani kecil macam wak karim. Mari kita bersama berfikir dalam diri masing2, apa yg mesti kita lakukan?
Sedikit aja dari saya : “kira-kira masih ada tidak pada zaman sekarang seorang pemimpin propilnya seperti sosok seorang Sayyidina UMAR ra. Kalaw jawabannya MASIH ADA, kita sebagai org yg d pimpin wajib hukumnya memilih sosok tsb. Tapi 1 x lagi MASIH ADAKAH SOSOK PROFIL tsb.?….
jadi malu nama gue disebut sebut neh…
gue dah sempet baca, tapi belum sempet komentar apa apa, lagi lumayan sibuk.
gue baru tahu kabar yaya. temen SMA gue ini beberapa hari lalu, gue ngerasa kayak nonton laskar pelangi di dunia nyata dalam versi dan ruang lingkup yang lebih kecil. sosok yaya ini ngingetin gue ama karakter lintang. serpihan bintang yang harus terkubur di pedalaman perkebunan karet jambi.
back to the topic!
Khilafah adalah kepemimpinan, imamah, biasa juga disebut kekhalifahan. merupakan satu bentuk pemerintahan Islam. Pemimpin atau kepala pemerintahannya dinamakan khalifah.
1. Khulafa’ur Rosyidin di Madinah
2. Kekhalifahan Bani Umayyah di Damaskus
3. Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Baghdad
4. Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Kairo
5. Kekhalifahan Turki Utsmani
Jabatan dan pemerintahan Khalifah berakhir dan dibubarkan dengan pendirian Republik Turki pada tanggal 3 Maret 1924 ditandai dengan pengambilalihan kekuasaan dan wilayah kekhalifahan oleh Majelis Besar Nasional Turki, yang kemudian digantikan oleh Kepresidenan Masalah Keagamaan (The Presidency of Religious Affairs) atau sering disebut sebagai Diyainah, Gazi Mustafa Kemal Pasha Ataturk.
gue pengen ada khalifah saat ini karena karakter pemimpin Islam ialah menganggap bahwa otoritas dan kekuasaan yang dimilikinya adalah sebuah kepercayaan (amanah) dari umat Islam dan bukan kekuasaan yang mutlak dan absolut. Hal ini didasarkan pada hadist yang berbunyi:
“It (sovereignty) is a trust, and on the Day of Judgment it will be a thing of sorrow and humiliation except for those who were deserving of it and did well.”
pertanyaan gue adalah siapakah yang layak untuk dijadiin amirul mukminin sekarang ini?
waahh… dunia memang seperti itu…
PERADILAN INDONESIA: PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT
Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap Rp.5,4 jt. (menggunakan uang klaim asuransi milik konsumen) di Polda Jateng
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
Maka benarlah statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK). Ini adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen Indonesia yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
Sudah tibakah saatnya???
David
HP. (0274)9345675
Terus terang saya tidak percaya 100% kalau Utsman bin Affan korupsi meskipun itu disampaikan seorang ahli sejarah, sebab sejarah bisa dibolak balik, jangan kata Utsman, Rasulullah saja banyak mendapat fitnah. Bagaimana mungkin seorang ahli surga melakukan itu?
Mengenai syariat Islam tulisan Dr. Fahmi Amhar rasanya patut untuk dibaca.
rakyat kecil. bagaimana kehidupannya. pemerintah menekehe. tapi dasar muka kecebong. ya gak tau malu. urat2 malunya udah putus.
ingat gak. mulut pemerintah nyebut2 nama rakyat sampe mulutnya doer. tapi itu terjadi ketika hendak ada pemilu doang.
jadi rakyat kecil di manfaatkan suaranya saja. stelah itu slmat tinggal. ah kasihan sekali nasip rakyat di zaman zekarang. yang selalu di pimpin macan garong semua. gak usah milih2 capres cawapres segala lah. toh sebelum mereka jadi capres atau cawapres. mereka sudah lulus senson mengenei macan garong. yang belum lulus jadi tikus pengerat. ah belum brani mencalonkan diri.
Widgetnya anjlog kenapa ya??
Pada pro khilafah disini?
gimana dong nasip orang2 kaya kayak gue? entar harta gue dirampok baetul mal, dong!
selamat malam sahabat!
pa cabar?
senang dech dapat postingan yg kuat dan berisi ini dari mu
salam hangat selalu
hmm negeri indah kaya raya tetapi miskin.. terutama miskin HATI NURANI.. miskin AMANAH
Salam Sayang