Memperkenalkan ‘Doggie style’?
Perkembangan IT sungguh menakjubkan. Arus informasi telah menyeruak masuk bahkan hingga ke gubuk-gubuk petani di pedalaman. Juga ke pondok saya yang reyot di ujung kampung. Di atas dipan bambu, di temani secangkir teh hangat dan sepiring rebus singkong,…*hhmmm…* saya begitu asyik menelusuri halaman demi halaman internet.
Memang luar biasa, dan seperti biasa, sesuatu yang luar biasa selalu melahirkan kontroversi. Banyak kalangan menyambut baik fenomena ini. Tak sedikit yang memandang pesimistik.
Banyak pakar mempertanyakan seberapa penting internet buat masyarakat kampung, seberapa besar ekses negatif yang bakal ditimbulkan.

Jajan
Jajan adalah kultur, ia di bentuk dari sebuah proses sejarah. Ia tidak seperti hasrat biologis-misalnya, yang adalah sebuah fitrah. Jajan terlahir dari ekses. Kehidupan makin menuntut manusia untuk semakin fokus, kemudian terbentuk rutinitas, ekses rutinitas ini yang menumbuh-kembangkan Jajan menjadi komoditi yang amat besar sekarang ini.
Mulanya manusia tak pernah mengenal Jajan, karena hidup mengalir apa adanya. Tidak ada tenggat apalagi target. Kehidupan manusia purba yang nomad menjadikan mereka tak pernah memikirkan esok. Ada sekarang, makan sekarang. Tapi mereka lepas dari beban Jajan. Semuanya bagi mereka adalah makanan, semua adalah cara untuk bertahan hidup, bahkan aktivitas yang menurut manusia modern bernilai seni-di buatnya benda-benda magis yang artistik, misalnya, bagi mereka tak lebih dari sekadar menghindari petaka, mencoba melawan nasib, mempertahankan hidup. Mereka tak pernah mengenal Seni, mereka tak pernah Jajan.
Saat tata cara nomaden di tinggalkan manusia, kehidupan berangsur semakin kompleks. Terlahir sistem, yang menuntut manusia untuk menciptakan Sketsa. Dan masing-masing individu menjalani peran masing-masing berdasarkan Sketsa. Semakin fokus pada Sketsa-menurut teori manusia, kemungkinan untuk sukses semakin besar.

Bangga
Hari Senin-13 Juli, ketika saya sedang asyik mengiris kulit demi kulit pohon karet, ketika pikiran sedang hanyut dalam keheningan hutan pagi itu, saya menerima telepon dari anak saya, \”Pak, hari ini Dias mulai masuk sekolah!\”
Ah, betapa bangga hati ini, sama bangganya dengan saat-saat ketika saya mengangkat sang bayi merah itu sambil menyerukan Takbir, hari pertama dia menghirup udara dunia.
Memahami Per”beza”an Kita
Cukup rumit untuk memetakan konsep hubungan kita dengan negeri tetangga, Malaysia. Jiran terdekat ini memang memiliki hubungan emosional dan sejarah yang tak terpisahkan dari kita. Rumpun Melayu, yang meliputi semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, sebagian Jawa dan Sulawesi, tak pelak merupakan fakta yang tak bisa dibantah, bahwa antara kita dan mereka bersaudara.
Tetapi semua faham, hubungan sejarah yang lekat dan manis itu tak semanis realita kini. Boleh dikata, saat ini hubungan Indonesia Malaysia berada dalam situasi yang buruk, bahkan mungkin yang terburuk semenjak gesekan-gesekan konflik dimulai zaman revolusi dahulu.
Memang kita belum mendengar ada pejabat negara yang mengeluarkan statemen “keras” seputar konflik dengan Malaysia. Namun gejolak luar biasa dikalangan masyarakat umum begitu terasa. Memang kita belum mendengar jargon “ganyang Malaysia” kembali bergaung dikalangan petinggi istana atau politisi Senayan. Tapi kita sadar emosi ini sudah sedemikian kuat. Bahkan riak-riak kecil semacam kasus Manohara yang tak ubahnya “opera sabun”, ditanggapi secara ekstrem sebagai penghinaan nasional. Read more »
Demi Sebuah Komplain
Semakin lama berlangganan Indosat, makin parah hipertensi saya. Nah lho? Iya, jika anda menjadi saya sekarang, entah serapah macam apa bakal menyembur dari mulut anda.
Ini tentang kesabaran. Bahwa manusia sabar disayang Tuhan, itu mitos, atau kalau memang hukum, saya belum pernah tahu seperti apa dalilnya. Jadi, kesabaran versi saya, ada batasnya. Iming-iming disayang Tuhan, jika pilihannya sudah sedemikian sulit hingga membuat darah saya makin bergejolak, saya jengah juga.

Kena Batunya
“Saat kau pergi, berlinanglah air mataku. Betapa singkat kurasakan, kebahagiaan itu, kini lenyaplah sudah. Ooh…”
Itu lagu lama, ya! Tapi sampai kini saya tak pernah tahu itu lirik cengeng punya siapa? Cuma, istri saya bilang bahwa itu lagunya vagetoz. Dan memang dari mulut istrilah syair-syair itu selalu mengalun tanpa ampun, sambil masak, sambil mandi, sambil tiduran, sambil…. Istri saya mungkin rela jadi groupie nya vagetoz.
Terluka Karena Mega
Megawati itu pemimpinnya wong cilik!, saya setuju itu. Terbukti, PDIP-kendaraan politiknya, dikenal sebagai partai yang berbasis masa rakyat jelata. Bukti lagi, 99,9% tetangga saya (para buruh penyadap karet), menjagokan dia buat jadi presiden periode mendatang.
Tapi, saya terhenyak kaget ketika membaca sebuah berita di majalah lama. Itu berita lama, bertahun-tahun yang lalu, tetapi teramat sangat menohok hati, melukai jiwa dan menghancurkan hormat dan simpati saya pada wanita yang mengaku mewarisi cita-cita, semangat juang dan patriotisme Bung Karno itu.
Meng-update Niat
Alhamdulillah, setelah lama “mati suri”, akhirnya blog ini jaga kembali. Ada banyak sebab dan terlalu banyak kisah untuk diceritakan dalam sebuah kalimat, tentang mengapa saya tega menelantarkan blog yang baru seusia cendawan ini. Tapi, lupakan saja! Itu bukan hal penting, apalagi di saat saya cukup lama absen menyapa, menebar silaturahmi, berkunjung dan berkomentar di blog teman-teman sekalian.
Baiklah, saya anggap ini awal, meski tentu bukan sebenar-benar awal. Maksudnya setelah lama rehat dan mengisolasi diri dari hiruk-pikuk dunia cyber, saya menemukan nilai-nilai baru dalam dunia blogging, yaitu ikhlas dan apa adanya. Terus terang, motivasi awal saya ketika mulai ngeblog, sangat jauh dari dua kata di atas.
Saya menemukan kenyataan, bahwa sebuah blog tetaplah blog, diary virtual yang memang cuma sebatas ungkapan atau ekspresi dan opini seseorang. Tak lebih. Semua yang dituliskan, di deskripsikan, di putar ulang, dalam sebuah blog tak akan menghasilkan apa-apa, (termasuk blog-blog besar yang dijejali berbagai iklan dan post-post review pesanan, sebab dollar yang mengalir bukan berasal dari isi, tema dan kualitas postingan). Betapapun hebatnya sebuah postingan, tetaplah sebuah postingan blog, tidak ada apa-apanya, tidak punya kekuatan untuk sebuah kajian intelektual. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa tulisan di blog adalah sampah yang kian hari kian mengotori ruang-ruang internet, Read more »
Khilafah Di Ujung Zaman
“Kalau begini terus keadaanya, rasanya aku ingin kembali saja ke zaman Sayyidina Umar!”, kata seorang tetangga suatu hari, Wak Karim namanya. Saya heran dan bertanya sebabnya, “lha, kau ingat kisah khalifah Umar, bukan? Beliau secara rutin menyamar berkeliling kota setiap malam, hanya untuk mengetahui apakah ada rakyatnya yang kelaparan.”
Ah, saya tersenyum mendengar penuturan lugu orang tua itu. Entah senyuman lucu, atau getir, yang jelas saya sekarang tahu mengapa “statemen berani” seperti itu muncul dari pemikiran seorang petani kampung. Kehidupan semakin berat bagi para petani karet, akibat harga karet yang tak kunjung membaik. Sementara harga sembako terus meroket. BLT dan beras bersubsidi tak pernah mampir ke kampung kami, padahal hampir semua KK di RT kami layak menerima bantuan “recehan” dan beras berulat itu. Kami termarginalkan. Kami tak dihiraukan. Maka, tak salah jika Wak Karim lantas merindukan sejarah manis zaman khalifah Umar.
Dulu saya pernah belajar sedikit sejarah, pernyataan “kembali ke masa Khalifah” yang meluncur polos dari mulut seorang petani itu, justru adalah sebuah wacana “besar” yang telah menjadi polemik sepanjang sejarah. Itu adalah isu panas melingkupi ranah paling sensitif perpolitikan Islam. Baik di Indonesia maupun dunia internasional.

AL Azhar; 30.000 orang menyaksikan perdebatan akbar tentang khilafah th 1992 di Cairo
Masih dalam rangka mengenang saat-saat 







